Defisit APBN menyeret rupiah ke Rp16.804/US$, IHSG turun usai ATH
Kamis, 08 Januari 2026

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,22% atau 19,34 poin ke level 8.925,47 hingga penutupan perdagangan, setelah mencapai rekor All Time High (ATH) intraday di 9.002,92.
Total transaksi di seluruh pasar mencapai Rp29,06 triliun, yang melibatkan perdagangan 55,14 miliar lembar saham.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 302 saham mencatat kenaikan harga. Namun 370 saham melemah dan 138 saham stagnan.
Sementara itu nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan mencapai Rp16.798/US$ hingga pukul 14.59 WIB, menurut data Bloomberg.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendahnya di Rp16.804/US$, terendah dalam 9 bulan terakhir.
Sejumlah analis menilai saat ini investor khawatir dengan kebijakan pemerintah Indonesia, yang baru saja mengumumkan defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun untuk 2025. Angka ini hampir menyentuh ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Investor akan terus memantau keberlanjutan fiskal di bawah menteri keuangan yang baru,” kata ahli strategi emergin-market Credit Agricole CIB, Jeffrey Zhang, seperti dilansir Bloomberg.
Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tak hanya melaporkan posisi defisit anggaran yang melebar. Ia juga menyampaikan bahwa pendapatan dan belanja negara hingga akhir tahun tak memenuhi target.
Dalam laporan yang sama, ahli strategi makro dan fixed-income PT Mega Capital, Lionel Priyadi, juga mengingatkan tingginya defisit APBN berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga ke Rp16.900/US$.
Saham perbankan, yang dikenal sensitif terhadap nilai tukar rupiah, cenderung stagnan dan melemah.
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar, turun 1,23% atau 100 poin. Sementara harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik tipis 0,27% atau 10 poin dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) stagnan. (KR)