Bank of England hentikan penjualan obligasi jangka panjang

Jumat, 18 September 2026

image

LONDON — Bank of England (BoE) menghentikan penjualan obligasi pemerintah Inggris selama enam bulan ke depan dan menghentikan penjualan obligasi jangka panjang secara permanen sebagai bagian dari rencana pengurangan kepemilikan surat utang senilai £488 miliar hingga 2034.

Seperti dikutip Reuters, keputusan tersebut diumumkan bersamaan dengan keputusan mempertahankan suku bunga acuan.

Kebijakan ini muncul hanya beberapa hari setelah imbal hasil obligasi pemerintah Inggris bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 1998, di tengah aksi jual obligasi global.

Gejolak pasar kembali memicu kritik terhadap kebijakan penjualan obligasi BoE.

Sejumlah pihak menilai langkah tersebut membuat kerugian bank sentral terealisasi lebih cepat, sementara dampaknya pada akhirnya dapat ditanggung oleh pembayar pajak.

Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan bank sentral kini memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan quantitative tightening (QT).

"Bank dan Komite Kebijakan Moneter telah memutuskan untuk menahan sebagian besar obligasi yang dimiliki untuk tujuan kebijakan moneter dari penjualan, sementara sisanya akan dikurangi selama delapan tahun ke depan," ujar Bailey.

Bailey selama ini menegaskan keinginannya untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah hingga tingkat minimum.

BoE berpendapat bahwa perubahan laju penjualan terutama memengaruhi waktu terjadinya kerugian pemerintah, bukan total nilai kerugian tersebut.

Bailey juga membantah bahwa perubahan kebijakan tersebut merupakan respons terhadap memburuknya kondisi pasar.

Ia mengatakan BoE telah mulai secara internal menyusun perubahan rencana penjualan obligasi sebelum pecahnya perang Amerika Serikat dan Iran pada Februari.

Imbal Hasil Obligasi Turun

Harga obligasi pemerintah Inggris bertenor panjang melonjak setelah pengumuman BoE. Imbal hasil obligasi 30 tahun bahkan menuju penurunan harian terbesar sejak April dan turun ke level terendah dalam tiga pekan.

Matthew Amis, direktur investasi untuk manajemen suku bunga di Aberdeen Investment, mengatakan perubahan tersebut memberikan sentimen positif terutama bagi obligasi dengan tenor panjang.

BoE sebelumnya membeli sekitar £895 miliar surat utang dalam mata uang pound, hampir seluruhnya berupa obligasi pemerintah, antara 2009 hingga 2021 melalui beberapa putaran quantitative easing (QE).

Program tersebut ditujukan untuk mendukung perekonomian dan menekan suku bunga jangka panjang.

Pada Februari 2022, BoE berhenti menginvestasikan kembali dana dari obligasi yang telah jatuh tempo.

Kemudian pada September tahun yang sama, bank sentral mulai menjual obligasi untuk meningkatkan laju QT menjadi sekitar £100 miliar per tahun.

Pada September tahun lalu, Komite Kebijakan Moneter BoE memutuskan menurunkan laju tersebut menjadi £70 miliar.

Pada Kamis, komite secara bulat dengan suara 9-0 menyetujui rencana baru.

£120 Miliar Obligasi Disimpan Permanen

Dalam rencana terbaru, BoE akan mengurangi hingga nol kepemilikan obligasi yang digunakan untuk tujuan kebijakan moneter.

Dari total £488 miliar obligasi yang tersisa, sekitar £120 miliar yang jatuh tempo pada 2049 atau setelahnya akan tetap berada dalam neraca BoE secara permanen sebagai penopang uang kertas yang beredar.

Sementara itu, sekitar £222 miliar obligasi yang jatuh tempo hingga 2034 akan dipertahankan sampai jatuh tempo.

Adapun £146 miliar obligasi dengan jatuh tempo antara 2035 dan 2049 akan dijual.

Rencana tersebut berarti BoE akan menjual sekitar £20 miliar obligasi per tahun.

Jika memperhitungkan obligasi yang jatuh tempo secara alami, pengurangan rata-rata mencapai sekitar £46 miliar per tahun.

Laju tersebut lebih lambat dibandingkan 12 bulan terakhir, tetapi masih sejalan dengan perkiraan investor yang disurvei BoE pada Juli untuk tahun keuangan 2026/2027.

Lelang Obligasi Ditangguhkan

BoE juga akan menghentikan seluruh penjualan hingga April sembari berkonsultasi dengan pemerintah mengenai kemungkinan menjual obligasi secara langsung kepada Debt Management Office (DMO) milik Kementerian Keuangan Inggris berdasarkan harga pasar.

Perubahan tersebut berpotensi menghindarkan BoE dari risiko memperoleh harga yang kurang menguntungkan melalui lelang untuk menjual sisa obligasi dalam jumlah kecil.

BoE menjadi salah satu bank sentral besar yang melakukan penjualan langsung obligasi pemerintah, alih-alih hanya menunggu surat utang tersebut jatuh tempo.

Hal itu antara lain disebabkan oleh rata-rata jatuh tempo obligasi pemerintah Inggris yang relatif panjang.

Bank sentral memperkirakan program QT telah meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris sekitar 0,25 poin persentase.

BoE menilai dampak tersebut relatif kecil dibandingkan lonjakan imbal hasil obligasi dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, sejumlah analis memperkirakan dampaknya terhadap imbal hasil obligasi 30 tahun bisa mencapai sekitar 0,75 poin persentase, bahkan lebih besar dari selisih imbal hasil obligasi pemerintah Inggris dan AS bertenor 30 tahun saat ini. (DK)