Ilmuwan China temukan metode baru pemurnian minyak mentah
Jumat, 18 September 2026
DALIAN — Ilmuwan China mengembangkan metode baru untuk memurnikan minyak mentah yang dapat memangkas penggunaan energi hingga 90%.
Berbeda dari metode distilasi konvensional yang berulang kali memanaskan minyak hingga mendidih, metode ini memisahkan molekul minyak pada suhu ruang.
Dikutip dari Good News Network, temuan tersebut masih berada pada tahap pengujian di laboratorium sehingga belum dapat dipastikan bisa diterapkan dalam skala industri minyak global.
Jika dapat dikembangkan secara komersial, teknologi ini berpotensi menekan biaya dan emisi dalam produksi bensin, diesel, maupun plastik.
Minyak mentah dan produk hasil pemurniannya menjadi bahan baku langsung bagi ribuan barang yang digunakan dalam berbagai kebutuhan.
Peran tersebut kembali menjadi sorotan setelah penutupan Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima minyak mentah dunia.
Peneliti dari Dalian Institute of Chemical Physics di China bagian utara mengembangkan metode yang disebut “pemurnian molekuler” untuk mengolah minyak mentah menjadi produk minyak olahan.
Metode tersebut menggunakan membran kimia untuk memisahkan berbagai molekul dalam minyak mentah dan menyalurkannya ke wadah yang berbeda.
Metode tersebut berbeda dari distilasi konvensional yang memanfaatkan perbedaan kecil titik didih berbagai senyawa dalam minyak mentah untuk memisahkannya. Proses ini mengharuskan minyak mentah dipanaskan berulang kali sehingga membutuhkan panas dan energi dalam jumlah besar.
Membran kimia yang dikembangkan para ilmuwan dirancang menyerupai saringan.
Membran tersebut memungkinkan komponen tertentu dalam minyak mentah melewatinya, sementara komponen lainnya tersaring.
Sebagai contoh, alkana rantai lurus dan alkana bercabang tunggal yang digunakan untuk memproduksi etilena dapat melewati satu jenis membran karena ukurannya berbeda dari alkana bercabang banyak dan sikloalkana yang digunakan untuk membuat bensin.
Para peneliti perlu melakukan penyesuaian berulang pada kedua membran tersebut agar dapat bekerja secara tepat.
Perbedaan ukuran antara kedua kelompok molekul itu hanya sekitar satu per seratus nanometer.
Setelah berhasil mengembangkan membran tersebut, para peneliti mengujinya menggunakan campuran minyak mentah ringan dan manis yang mengandung 15 jenis senyawa kimia.
Dalam pengujian laboratorium, campuran tersebut berhasil dipisahkan menjadi tiga kelompok produk bernilai tinggi dengan tingkat perolehan kembali antara 85% dan 90%.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal National Science Review.
Karena proses tersebut tidak membutuhkan perebusan, penguapan, maupun kondensasi, penggunaan energinya 91% lebih rendah dibandingkan proses pemurnian konvensional.
Estimasi pada 2021 menempatkan industri pemurnian minyak sebagai sumber emisi karbon dioksida (CO2) stasioner terbesar ketiga di dunia. Industri tersebut menghasilkan sekitar 1,3 gigaton CO2 per tahun atau sekitar 4% dari total emisi CO2 yang berasal dari aktivitas manusia pada tingkat tertingginya.
Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan kontribusi sektor transportasi tertentu, seperti pelayaran dan penerbangan.
Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi metode pemurnian molekuler jika dapat diterapkan dalam skala industri. (ARF)