Satelit Ungkap Penyusutan Besar Es Greenland dan Antartika

Sabtu, 19 September 2026

image

WASHINGTON — Greenland dan Antartika telah kehilangan sebanyak 11,3 triliun ton es sepanjang 1979 hingga 2023, berdasarkan penelitian terbaru yang menggunakan data dari 27 misi satelit.

Kehilangan tersebut berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut global sebesar 3,14 sentimeter.

Dikutip dari Reuters, penelitian tersebut menggunakan catatan satelit terpanjang yang pernah dikumpulkan mengenai perubahan massa lapisan es Greenland dan Antartika.

Studi tersebut dilakukan oleh Ice Sheet Mass Balance Inter-comparison Exercise, kelompok peneliti kutub internasional, dan diterbitkan dalam jurnal Scientific Data.

Peneliti mengatakan temuan tersebut memberikan bukti baru mengenai dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

“Sebagai gambaran, 11,3 triliun ton es merupakan jumlah yang cukup untuk mengisi sebuah kubus dengan tinggi 23 kilometer,” kata Inès Otosaka, Ilmuwan Iklim dari Northumbria University di Inggris sekaligus penulis utama penelitian tersebut.

Sekitar 60% dari total kehilangan es berasal dari Greenland, sedangkan 40% berasal dari Antartika.

Hal tersebut terjadi meskipun luas Greenland hanya sekitar seperdelapan dari luas Antartika.

“Ketika lapisan es mencair, kenaikan permukaan laut akan terjadi. Setiap tambahan kenaikan permukaan laut sebesar 1 sentimeter menempatkan sekitar 2 juta hingga 3 juta orang dalam risiko banjir pesisir setiap tahunnya,” jelas Otosaka.

Menurutnya, lapisan es kini menjadi salah satu penyumbang utama kenaikan permukaan laut dan menyumbang sekitar 25% dari total kenaikan permukaan laut.

Data satelit yang diperpanjang hingga 1970-an juga menunjukkan bahwa kehilangan es mulai terjadi pada 1990-an dan terus meningkat setelahnya.

Laju kehilangan es tersebut meningkat empat kali lipat selama periode 1980-an dan 2010-an.

Pencairan Es Makin Cepat

Penelitian mencatat laju kehilangan es melambat pada 2020 hingga 2023.

Namun, peneliti mengatakan kondisi tersebut kemungkinan hanya variasi jangka pendek dan bukan pembalikan dari tren jangka panjang.

Di Antartika Timur, hujan salju yang lebih tinggi dari biasanya menambah massa es sehingga sebagian kehilangan es dari gletser di wilayah lain dapat tertutupi.

Di sisi lain musim panas yang relatif lebih sejuk di Greenland secara signifikan mengurangi pencairan es di permukaan.

Sekitar 84% kehilangan es berasal dari gletser yang mengalir lebih cepat menuju laut, bukan dari pencairan es di permukaan.

Menurut Otosaka, kondisi ini menunjukkan bahwa tren jangka panjang kehilangan es dipengaruhi oleh respons lapisan es terhadap pemanasan laut.

Peneliti mengatakan kenaikan permukaan laut sebesar 3,14 sentimeter yang berasal dari kehilangan es Greenland dan Antartika mungkin terlihat kecil.

Namun, kondisi tersebut menempatkan tambahan 6 juta hingga 9 juta orang di seluruh dunia dalam risiko banjir dan erosi pesisir.

“Temuan ini memiliki implikasi terhadap perencanaan wilayah pesisir. Kita perlu segera mengembangkan rencana untuk melindungi masyarakat pesisir di seluruh dunia dari dampak pencairan lapisan es,” kata Otosaka. (ARF)