Sanksi AS justru dorong inovasi berbasis sains perusahaan China

Sabtu, 19 September 2026

image

BEIJING - Sanksi teknologi Amerika Serikat terhadap perusahaan China justru mendorong peningkatan aktivitas inovasi berbasis sains, menurut sebuah studi yang menganalisis pengajuan paten perusahaan China selama 2010 hingga 2022.

Perusahaan China yang masuk daftar pembatasan AS semakin banyak memanfaatkan penelitian ilmiah yang tersedia secara terbuka untuk mengembangkan teknologi dan melakukan rekayasa balik terhadap teknologi asing yang aksesnya dibatasi.

Seperti dikutip South China Morning Post, Studi tersebut menemukan bahwa setelah dikenai sanksi AS, jumlah paten perusahaan China yang mengutip literatur ilmiah meningkat rata-rata 72%.

Temuan ini menunjukkan bahwa pembatasan akses terhadap teknologi eksklusif dapat mendorong perusahaan untuk mencari sumber pengetahuan alternatif.

Para peneliti mengatakan sanksi seperti pencantuman dalam US Entity List memang dapat menghambat operasi perusahaan dalam jangka pendek.

Namun, kebijakan tersebut juga dapat mendorong perusahaan membangun kemampuan internal dan mengubah strategi inovasinya.

Andalkan Ilmu Pengetahuan Terbuka

Ketika akses terhadap teknologi tertentu menjadi terbatas, perusahaan China semakin mengandalkan publikasi akademis dari dalam maupun luar negeri.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang terkena sanksi memperluas rentang waktu sumber pengetahuan ilmiah yang mereka gunakan serta meningkatkan pemanfaatan penelitian domestik dan internasional.

Para peneliti menilai kondisi ini berpotensi mendorong terbentuknya sistem teknologi yang lebih terpisah dari ekosistem inovasi global yang selama ini terintegrasi.

Namun, peningkatan tersebut tidak berarti perusahaan China telah menyamai perusahaan Amerika Serikat dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan.

Pada 2022, sekitar 22% paten perusahaan China mengutip publikasi ilmiah, dibandingkan sekitar 37% paten perusahaan AS.

Perusahaan AS juga rata-rata mengutip sekitar 17,5 publikasi untuk setiap paten yang berorientasi pada penelitian ilmiah, sedangkan perusahaan China sekitar lima publikasi.

Sanksi mengubah strategi inovasi

Dalam periode penelitian, jumlah paten perusahaan China yang berorientasi pada penelitian ilmiah meningkat sekitar 13,4 kali lipat, sementara peningkatan perusahaan AS sekitar 1,3 kali.

Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana pembatasan teknologi dapat menghasilkan konsekuensi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan awal kebijakan.

Alih-alih hanya mengurangi kemampuan perusahaan China mengakses teknologi asing, tekanan tersebut juga mendorong sebagian perusahaan meningkatkan riset internal dan memanfaatkan pengetahuan ilmiah yang tersedia secara terbuka.

Para peneliti menekankan bahwa ilmu pengetahuan merupakan sumber daya global yang dapat diakses secara luas.

Ketika perusahaan kehilangan akses terhadap teknologi eksklusif, literatur ilmiah dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan teknologi mereka sendiri.

Meski demikian, studi tersebut tidak menyimpulkan bahwa sanksi AS secara keseluruhan meningkatkan kemampuan teknologi China.

Dampak yang terlihat lebih spesifik pada perubahan perilaku perusahaan dalam menggunakan penelitian ilmiah sebagai sumber inovasi. (DK)