Asia harus bersiap sebelum bencana iklim makin sering melanda
Sabtu, 19 September 2026
SINGAPURA - Dampak bencana yang baru-baru ini melanda sejumlah wilayah Asia sangat mengejutkan.
Dilansir dari CNA, runtuhnya gletser di Nepal memicu banjir besar pada Agustus dengan jumlah korban tewas yang masih terus bertambah.
Sementara itu, Indonesia menghadapi kebakaran hutan terburuk dalam beberapa tahun di Kalimantan dan Sumatra, yang menyelimuti kawasan dengan kabut asap.
Namun, gambaran iklim yang lebih luas sebenarnya tidak mengejutkan.
Dunia berada di ambang melampaui kenaikan suhu rata-rata 1,5°C dibandingkan tingkat praindustri.
El Niño tahun ini, fenomena yang berkaitan dengan kondisi panas dan kering ekstrem, diperkirakan menjadi yang terkuat yang pernah tercatat.
Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Asia Tenggara khususnya merupakan salah satu kawasan paling rawan bencana di dunia.
Peristiwa cuaca ekstrem yang semakin intens akibat kenaikan suhu mengancam ketahanan pangan kawasan.
Meski demikian, kawasan ini masih belum memiliki kesiapan yang memadai untuk menghadapi konsekuensi pemanasan global.
Kesenjangan kesiapan Asia
Terdapat kesenjangan besar antara kebutuhan dan kapasitas serta pendanaan yang tersedia untuk adaptasi dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Secara sederhana, adaptasi berarti mengambil langkah-langkah untuk menghindari atau mengurangi dampak buruk dari peristiwa yang dipicu iklim dan cuaca.
Sementara itu, ketahanan atau resilience berkaitan dengan kemampuan menghadapi dampak tersebut serta memulihkan diri setelah bencana terjadi.
Penilaian yang diterbitkan Temasek Trust Singapura pada Mei memperkirakan bahwa pada 2030, Asia akan menyumbang sekitar 75% dari kesenjangan pendanaan global untuk adaptasi dan ketahanan iklim.
“Lebih dari US$200 miliar dibutuhkan setiap tahun di seluruh kawasan, sementara aliran dana saat ini hanya sekitar US$19 miliar,” menurut laporan tersebut.
Studi McKinsey yang juga diterbitkan pada Mei menyoroti Asia Tenggara.
Studi itu menyimpulkan bahwa untuk melindungi kawasan saat ini dengan standar adaptasi yang setara dengan negara-negara maju, diperlukan tambahan investasi sekitar US$25 miliar per tahun.
Tambahan tersebut akan membawa total kebutuhan investasi tahunan menjadi sekitar US$37 miliar.
Kesenjangan ini bukan sekadar persoalan angka.
Dampaknya sudah dirasakan masyarakat saat ini, mulai dari ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana di Nepal, meningkatnya risiko kesehatan akibat kualitas udara buruk di sebagian Asia Tenggara, hingga ancaman krisis sektor pertanian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Asia tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk pulih setelah bencana terjadi.
Kawasan ini perlu memperkuat langkah antisipasi, infrastruktur, sistem peringatan dini, serta pendanaan adaptasi sebelum dampak perubahan iklim menjadi semakin berat. (DK)