Tony Fernandes: Banyak investor minat danai AirAsia US$1 miliar
Sabtu, 19 September 2026
KUALA LUMPUR — Co-founder sekaligus penasihat AirAsia Group Bhd, Tan Sri Tony Fernandes, mengatakan rencana pendanaan senilai US$1 miliar mendapat minat kuat dari sejumlah bank dan investor.
Seperti dikutip The Straits Times, Fernandes mengatakan bank dari Amerika Serikat, Eropa, dan Malaysia telah menunjukkan minat dalam penggalangan dana tersebut.
Bahkan, investor obligasi dari Timur Tengah telah menyerahkan term sheet yang telah ditandatangani untuk berinvestasi dalam aksi pendanaan tersebut.
“Responsnya bagus, kami punya banyak pilihan. Saya berusaha mendapatkan pilihan dengan penawaran terbaik,” kata Fernandes.
“Tidak ada perubahan minat dari bankir dan investor meski ada pemberitaan mengenai AirAsia Group. Mereka sudah melihat angkanya. Mereka memahami bisnis kami. Jadi, tidak ada perubahan minat,” jelasnya.
Fernandes mengatakan masing-masing perusahaan penerbangan yang berada di bawah AirAsia Group juga tengah mencari pendanaan untuk menyesuaikan struktur biaya di tengah tingginya harga bahan bakar jet.
Untuk Indonesia dan Filipina, pendanaan kemungkinan besar dilakukan melalui penambahan modal.
Sementara itu, AirAsia di Malaysia dan Thailand diperkirakan akan mengandalkan penerbitan obligasi dan pembiayaan utang.
AirAsia Group tengah menghimpun US$1 miliar dari pasar utang internasional serta RM700 juta melalui fasilitas kredit domestik untuk merestrukturisasi dan membiayai kembali utangnya.
Grup tersebut menggabungkan sejumlah fasilitas pembiayaan yang ada ke dalam struktur utang terpadu dengan biaya yang lebih rendah.
Menurut AirAsia Group, langkah tersebut akan memungkinkan perusahaan membiayai kembali kewajiban utang berbunga tinggi yang timbul selama puncak pandemi Covid-19.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat menekan beban bunga tahunan secara signifikan dan menjaga likuiditas untuk kebutuhan modal kerja.
Fernandes membantah pemberitaan yang menyebut AirAsia Group meminta bantuan pemerintah untuk memperoleh pendanaan.
Dia mengatakan, selama 25 tahun beroperasi, AirAsia tidak pernah meminta atau menerima bantuan pemerintah.
Fernandes mengatakan AirAsia Group mampu melewati masa terburuk pandemi Covid-19 ketika sebagian besar pasar menerapkan lockdown.
Saat itu, hanya sekitar 10% armadanya yang masih beroperasi, tetapi perusahaan tetap bertahan tanpa bantuan pemerintah.
“Kami tidak pernah mendapatkan dan tidak sedang meminta bantuan dalam bentuk apa pun dari pemerintah. Secara resmi, saya mengatakan tidak ada pembicaraan dengan pemerintah Malaysia,” kata Fernandes. “Jika bank-bank Malaysia memberikan suku bunga yang lebih baik, mengapa tidak? Itu bukan bailout.”
Fernandes juga membantah mengetahui adanya penunjukan Alton Aviation Consultancy oleh Kementerian Keuangan Malaysia untuk mengevaluasi kebutuhan modal AirAsia Group.
Dia menegaskan AirAsia Group bukan grup maskapai yang berada di ambang kebangkrutan.
AirAsia Group saat ini memiliki pesanan 500 pesawat dan permintaan penerbangan terus meningkat. Tingkat keterisian penumpangnya juga berada di atas 80%.
“Secara kasar, keuntungan yang melekat pada pesanan pesawat itu mencapai US$1,5 miliar karena kami membelinya pada saat kondisi pasar sedang bagus.
Jadi, sekalipun Anda berpikir kami kekurangan likuiditas, kami bisa mencairkan nilai aset tersebut dan mendapatkan banyak uang tunai,” kata Fernandes.
“Namun, kami tidak akan melakukan itu karena kami ingin terus tumbuh,” ujarnya.
Pada Mei, AirAsia Group menandatangani pesanan pasti 150 unit Airbus A220-300 dengan nilai sekitar US$19 miliar.
Pesanan tersebut dapat ditambah hingga 150 pesawat lagi sehingga total potensial mencapai 300 unit.
“Orang-orang masih bepergian, tingkat keterisian kami bagus, dan uang tunai masih terus masuk.
“Namun, seperti biasa, budaya di maskapai ini adalah selalu melihat krisis sebagai peluang. Setiap kali ada krisis di AirAsia Group, kami tumbuh setelahnya,” kata Fernandes. (ARF)
Terkait: AirAsia mencari pinjaman US$1 miliar di pasar utang internasional