Keppel hubungkan PLTS 2 GW Indonesia ke data center Singapura
Sabtu, 19 September 2026
SINGAPURA - Manajer aset asal Singapura, Keppel, berencana menghubungkan proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia dengan pembangkit Keppel Merlimau Cogen (KMC) di Jurong Island, Singapura.
Seperti dikutip THE BUSINESS TIMES, pembangkit KMC akan terhubung dengan proyek PLTS berkapasitas total 2 gigawatt (GW) di Kepulauan Riau melalui kabel transmisi bawah laut yang mendarat di Jurong Island.
Hal tersebut disampaikan Managing Director Power and Renewables Infrastructure Division Keppel, Janice Bong.
Keppel bersama salah satu private fund miliknya tengah mengembangkan proyek PLTS di Indonesia yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai berskala utilitas (utility-scale battery energy storage system), termasuk infrastruktur kabel bawah laut yang menghubungkan proyek tersebut dengan Singapura.
Sebelumnya, Keppel telah memperoleh lisensi bersyarat dari Energy Market Authority (EMA) Singapura untuk mengimpor 300 megawatt (MW) listrik rendah karbon dari Indonesia.
Bong mengatakan listrik hijau dari proyek tersebut berpotensi diserap oleh pusat data, mengingat lokasi KMC berdekatan dengan kawasan pusat data yang akan dikembangkan di Jurong Island.
Singapura baru-baru ini memberikan tambahan kapasitas pusat data sebesar 200 MW kepada empat operator, termasuk Keppel.
Perusahaan berencana menginvestasikan lebih dari S$1 miliar untuk membangun pusat data yang siap mendukung kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Jurong Island.
Menurut Bong, koneksi antara KMC dan proyek PLTS Indonesia memungkinkan Keppel memanfaatkan infrastruktur kelistrikan yang sudah tersedia di Jurong Island sekaligus menciptakan nilai tambahan bagi pelanggan.
Namun, Keppel menegaskan rencana tersebut masih bergantung pada pengembangan lebih lanjut serta persetujuan regulator.
Bidik Biomethane dan Hidrogen
Selain impor listrik, Keppel juga menjajaki penggunaan biomethane sebagai bahan bakar terbarukan yang dapat digunakan sebagai pengganti gas alam pada pembangkit listrik.
Biomethane berasal dari biogas yang dihasilkan dari bahan organik, termasuk limbah pertanian. Keppel telah mengidentifikasi potensi biomethane dari palm oil mill efflueent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit, serta sumber lainnya di Malaysia dan Indonesia.
Tahun lalu, Singapore Economic Development Board meluncurkan biomethane sandbox untuk mendorong pengembangan rantai pasok sekaligus mempercepat adopsi biomethane oleh pelaku industri.
Keppel menjadi salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam program tersebut.
Biomethane juga menjadi salah satu opsi bagi pusat data baru di Jurong Island untuk memenuhi ketentuan Singapura yang mewajibkan sedikitnya 50% kebutuhan listriknya berasal dari jalur energi hijau yang memenuhi kriteria.
Di sisi lain, Keppel turut mempertimbangkan penawaran terbaru EMA kepada sektor swasta untuk membangun unit pembangkit gas baru yang siap menggunakan hidrogen.
Keppel sebelumnya telah masuk lebih awal ke teknologi tersebut melalui Keppel Sakra Cogen di Jurong Island.
Pembangkit berkapasitas 600 MW itu mulai beroperasi pada Mei dan menjadi pembangkit listrik siklus gabungan pertama di Singapura yang kompatibel dengan hidrogen.
Pada tahap awal, fasilitas tersebut dapat membakar bersama hingga 30% hidrogen dengan gas alam.
Namun, Sakra Cogen belum mulai menggunakan hidrogen karena biaya bahan bakar tersebut masih tinggi dan rantai pasok globalnya belum berkembang, terutama untuk hidrogen hijau yang diproduksi menggunakan energi terbarukan.
Bong mengatakan pemanfaatan hidrogen di Singapura akan sangat bergantung pada tercapainya skala ekonomi yang mampu menurunkan biaya produksinya.
Dorong ASEAN Power Grid
Langkah Keppel sejalan dengan upaya Singapura mendiversifikasi sumber energi sekaligus mengurangi emisi karbon.
Singapura menargetkan impor sekitar 6 GW listrik rendah karbon pada 2035.
Keppel merupakan salah satu dari enam perusahaan yang telah memperoleh lisensi bersyarat dari EMA untuk secara kolektif mengimpor 3 GW listrik bersih dari Indonesia.
Namun, proyek-proyek tersebut masih menghadapi ketidakpastian regulasi.
Indonesia mewajibkan eksportir energi bersih memperbarui izin setiap lima tahun, yang dinilai dapat menjadi perhatian bagi investor maupun calon pembeli listrik.
Selain itu, EMA telah memberikan persetujuan bersyarat kepada tujuh perusahaan lainnya untuk mengembangkan proyek impor listrik bersih dengan total kapasitas 6,25 GW.
Salah satunya merupakan rencana Keppel mengimpor 1 GW listrik dari Kamboja.
Berbagai proyek tersebut berpotensi mendukung pengembangan ASEAN Power Grid (APG), sebuah gagasan untuk menghubungkan sistem kelistrikan negara-negara Asia Tenggara guna mendorong perdagangan listrik bersih lintas negara.
Keppel juga terlibat dalam proyek transmisi listrik hijau dari Laos ke Singapura melalui Thailand dan Malaysia.
Proyek tersebut turut meningkatkan kembali perhatian terhadap pengembangan APG.
Bong mengatakan jaringan listrik regional dapat memberikan ketahanan yang lebih besar terhadap guncangan eksternal, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Sebagai informasi, Salim Group mengambil alih seluruh kepemilikan Keppel Data Centres dalam usaha patungan pusat data di Indonesia yang sebelumnya bernama IndoKeppel Data Centres.
Setelah akuisisi tersebut, perusahaan diluncurkan kembali dengan nama IndoData Data Center dan kini beroperasi sebagai operator independen. (DK)