AS genjot pabrik chip, diprediksi kekurangan pekerja semikonduktor

Sabtu, 19 September 2026

image

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi tantangan besar dalam upayanya memperkuat industri semikonduktor domestik.

Seperti dikutip CNBC, di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya investasi pembangunan pabrik chip, AS justru terancam kekurangan tenaga kerja terampil.

Berdasarkan laporan McKinsey dan SEMI Foundation, AS diperkirakan kekurangan hingga 157.000 pekerja semikonduktor pada 2030.

Kekurangan tersebut terutama terjadi pada posisi teknis, seiring minimnya lulusan teknik yang memilih berkarier di industri chip.

Setiap tahun, hanya sekitar 3% lulusan teknik di AS yang masuk ke sektor semikonduktor.

Di sisi lain, sekitar 73% perusahaan pembuat chip mengaku mengalami kesulitan dalam mengisi posisi teknis yang tersedia.

Investasi Besar-Besaran di AS

Krisis tenaga kerja ini terjadi ketika sejumlah perusahaan teknologi global justru menggelontorkan investasi besar untuk memperluas kapasitas produksi chip di AS.

Samsung, misalnya, membangun fasilitas produksi (fab) senilai US$35 miliar di Taylor, Texas.

Fasilitas tersebut diperkirakan menciptakan sekitar 3.500 lapangan kerja.

SK Hynix juga menyiapkan fasilitas senilai US$4 miliar di Purdue Research Park, Indiana.

Sementara itu, Micron dan TSMC turut memperluas fasilitas produksi chip canggih di sejumlah wilayah, termasuk Idaho, New York, dan Arizona.

Besarnya investasi tersebut membuat kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil semakin mendesak.

Perusahaan tidak hanya membutuhkan operator, tetapi juga insinyur dan tenaga teknis yang memiliki keahlian khusus dalam proses manufaktur semikonduktor.

Kejar Talenta Lokal

Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, produsen chip mulai memperkuat kerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan di AS.

Langkah ini menjadi semakin penting di tengah proses visa H-1B bagi tenaga kerja asing yang semakin rumit dan mahal.

Purdue University dan Arizona State University (ASU), misalnya, mengembangkan program pendidikan khusus semikonduktor serta fasilitas cleanroom untuk memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa.

Perusahaan juga ikut turun tangan. Intel dan Samsung menyediakan dana beasiswa hingga puluhan juta dolar, memberikan hibah untuk laboratorium di tingkat sekolah menengah, serta menjalankan program magang bagi ratusan mahasiswa.

Pemerintah AS turut memberikan dukungan melalui CHIPS Act 2022.

Salah satu programnya mengalokasikan dana federal sebesar US$200 juta untuk memperkuat dan mengembangkan tenaga kerja di industri semikonduktor.

Masih Andalkan Tenaga Kerja Asia

Meski berbagai program pengembangan talenta lokal terus digencarkan, perusahaan chip masih mengandalkan tenaga ahli dari Asia untuk mendukung tahap awal operasional sejumlah fasilitas baru.

Samsung, SK Hynix, dan TSMC diketahui mendatangkan teknisi dari Korea Selatan dan Taiwan secara sementara.

Langkah tersebut dilakukan karena sebagian besar keahlian dan pengalaman manufaktur semikonduktor masih terkonsentrasi di Asia.

Di sisi lain, industri chip menawarkan prospek pendapatan yang cukup tinggi bagi pekerja di AS.

Gaji untuk sejumlah posisi di sektor semikonduktor berkisar antara US$127.000 hingga US$187.000 per tahun, sedangkan pekerja pada tingkat senior dapat memperoleh lebih dari US$238.000 per tahun.

Tingkat remunerasi tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi lulusan teknik untuk masuk ke industri semikonduktor.

Terlebih, perkembangan AI mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi dan menimbulkan ketidakpastian bagi sebagian pekerja di bidang software engineering.

Dengan investasi besar yang terus mengalir ke manufaktur chip AS, kemampuan mencetak tenaga kerja terampil dalam jumlah yang cukup akan menjadi salah satu faktor penting bagi keberhasilan ambisi Washington membangun kembali industri semikonduktor domestiknya. (DK)