CEO AirAsia: Kami telah berhasil melewati banyak krisis

Minggu, 20 September 2026

image

BANGKOK — AirAsia Group Berhad, yang sebelumnya dikenal sebagai AirAsia X Berhad, menegaskan kembali pendekatannya yang fokus dan berhati-hati dalam menghadapi berbagai tantangan industri penerbangan global.

Industri penerbangan saat ini menghadapi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga bahan bakar, tekanan biaya, serta dinamika pasar yang terus berubah.

Di tengah kondisi tersebut, AirAsia menyatakan terus mengambil langkah disiplin untuk menjaga ketahanan bisnis sekaligus mempersiapkan pertumbuhan jangka panjang.

CEO AirAsia Group, Bo Lingam, mengatakan perusahaan memiliki rekam jejak dalam menghadapi berbagai krisis selama 25 tahun perjalanan bisnisnya.

"Kami telah melewati banyak krisis sebelumnya, dengan Covid-19 menjadi tantangan terbesar. Yang membedakan kondisi saat ini adalah orang-orang masih dapat terbang dan aktivitas perjalanan tetap berlangsung,” ujar Bo Lingam, di laman resmi AirAsia, Jumat (18/9).

AirAsia, lanjutnya, mengambil pendekatan yang disiplin dalam mengelola bisnis—menyesuaikan kapasitas, mengendalikan biaya, berdiskusi secara aktif dengan para pemangku kepentingan, dan memperkuat ketahanan perusahaan.

Ia menegaskan komitmen perusahaan terhadap kelangsungan bisnis serta meminta pasar tidak terpengaruh oleh spekulasi media yang dinilai tidak akurat.

Strategi Operasional dan Efisiensi Biaya

Pada kuartal II, AirAsia berhasil memulihkan sekitar 70% dampak kenaikan harga bahan bakar melalui penerapan strategi tarif dinamis (dynamic fares) dan penurunan biaya operasional non-bahan bakar.

Memasuki kuartal III, yang secara tradisional merupakan periode perjalanan yang lebih sepi di kawasan tersebut, perusahaan secara taktis mengurangi kapasitas sebesar 20–25%.

AirAsia selanjutnya bersiap meningkatkan kembali kapasitas penerbangan hingga mendekati tingkat sebelum perang pada kuartal IV, seiring dengan meningkatnya permintaan perjalanan pada musim liburan akhir tahun.

Perusahaan juga terus mengoptimalkan armadanya.

Sebagai bagian dari program efisiensi jangka panjang, AirAsia telah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua dan kurang efisien dalam penggunaan bahan bakar.

Langkah tersebut tidak hanya mengurangi beban biaya sewa tetap, tetapi juga mempercepat transisi menuju penggunaan pesawat narrowbody yang lebih modern dan hemat bahan bakar.

Dengan mengonsolidasikan operasi penerbangan jarak pendek dan jarak jauh di bawah satu grup, AirAsia juga memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengoptimalkan armada dan jaringan rute.

Restrukturisasi Keuangan

Dalam hal kebutuhan modal dan pembiayaan, AirAsia menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan kepatuhan terhadap regulasi pasar modal.

Rencana penggalangan dana (fundraising) grup akan dialokasikan terutama untuk:

• restrukturisasi utang;

• pembiayaan kembali (refinancing); dan

• konsolidasi neraca keuangan untuk mengoptimalkan struktur modal jangka panjang.

Manajemen menekankan bahwa langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan, bukan sekadar menutupi kekurangan operasional.

AirAsia juga mengimbau para pemangku kepentingan dan pelaku pasar untuk mengacu pada keterbukaan informasi resmi perusahaan serta mengabaikan spekulasi yang tidak terverifikasi.

Prospek Pertumbuhan

Kekuatan jaringan AirAsia turut tercermin dari posisi Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL), yang baru-baru ini dinobatkan sebagai megahub internasional paling terhubung keempat di dunia sekaligus low-cost megahub nomor satu di dunia sejak 2023 berdasarkan laporan OAG Megahubs 2026.

AirAsia menjadi maskapai dominan yang menopang konektivitas tersebut, memperkuat posisi Kuala Lumpur sebagai salah satu pusat konektivitas penerbangan utama di kawasan.

"Secara keseluruhan, kami mengelola tantangan industri ini dari posisi yang kuat melalui rencana strategis yang jelas demi pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Kami sangat optimistis menghadapi kuartal IV dan yakin terhadap potensi jangka panjang AirAsia," kata Bo Lingam. (DK)