Harga nikel ambles 4,12% menanti kepastian produksi RI

Jumat, 09 Januari 2026

image

JAKARTA – Harga nikel di pasar berjangka London Metal Exchange (LME) telah turun lebih dari 4% dari puncaknya, di tengah ketidakpastian pemangkasan kuota produksi Indonesia untuk 2026.

Sebelumnya, harga nikel di pasar global sempat mencapai puncaknya di US$18.390 per ton pada Selasa (6/1). Ini merupakan harga tertinggi bagi nikel selama sekitar 16 bulan terakhir.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1) kemarin, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah mengonfirmasi rencana pemangkasan produksi nikel. Namun volumenya masih dalam perhitungan dan belum bisa diumumkan.

Sejak pertengahan Desember 2025, harga nikel di pasar global telah naik sekitar 20%.

Namun analis UOB Kay Hian Holdings, Benyamin Mikael, menilai kenaikan harga nikel saat ini masih belum cukup solid.

“Kecuali pemangkasan kuota dilakukan secara signifikan dan konsisten,” jelas Mikael, dalam catatan riset yang dikutip Bloomberg.

Sementara itu Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin, menilai penurunan harga nikel saat ini berpotensi jadi sentimen negatif bagi emiten yang berbisnis di sektor nikel.

“Karena berpotensi menurunkan harga jual rata-rata dan margin laba perseroan,” kata Theodorus, dengan menekankan bahwa sentimen ini bersifat jangka pendek.

Menurut data IDNFinancials.com, sejumlah saham emiten nikel pada pembukaan perdagangan hari ini bergerak variatif.

Harga saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) naik 2,26% dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 0,79%. Sementara harga saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) turun 0,86%, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 1,67%, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) turun 1,15%. (KR)