Rupiah melemah ke Rp16.843, terendah dalam 9 bulan terakhir

Jumat, 09 Januari 2026

image

JAKARTA - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (9/1/2026), seiring penguatan dolar global dan sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data ketenagakerjaan AS serta putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif impor.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 54,5 poin ke level Rp16.843,5 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup melemah 18 poin atau 0,11% di posisi Rp16.780 per dolar AS.Level ini adalah posisi terendah sejak 9 bulan yang lalu.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendahnya di Rp16.804/US$ pada  Kamis, (8/1). Sejumlah analis menilai saat ini investor khawatir dengan kebijakan pemerintah Indonesia, yang baru saja mengumumkan defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun untuk 2025. Angka ini hampir menyentuh ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Investor akan terus memantau keberlanjutan fiskal di bawah menteri keuangan yang baru,” kata Ahli Strategi Emerging-Market Credit Agricole CIB, Jeffrey Zhang, seperti dilansir Bloomberg.

Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tak hanya melaporkan posisi defisit anggaran yang melebar. Ia juga menyampaikan bahwa pendapatan dan belanja negara hingga akhir tahun tak memenuhi target.

Dalam laporan yang sama, ahli strategi makro dan fixed-income PT Mega Capital, Lionel Priyadi, juga mengingatkan tingginya defisit APBN berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga ke Rp16.900/US$.

Kurs Regional

Tekanan terhadap mata uang regional terjadi di tengah pelemahan saham Asia dan penguatan dolar AS. Reuters melaporkan, investor global masih berhati-hati menjelang laporan nonfarm payrolls AS dan kemungkinan putusan Mahkamah Agung terkait legalitas tarif global yang diberlakukan Presiden Donald Trump.

Analis pasar keuangan senior Capital.com, Kyle Rodda, menyebut putusan pengadilan menjadi faktor ketidakpastian utama pasar.

“Putusan Mahkamah Agung merupakan wildcard sesungguhnya bagi pasar,” kata Rodda. Ia menilai pembatalan tarif dapat menjadi sentimen positif, meski implementasinya belum tentu mulus.

“Namun kendalanya, meskipun tarif dinyatakan tidak sah, pemerintahan Trump kemungkinan tidak akan tinggal diam dan akan mencari cara lain untuk mempertahankan pungutan tersebut,” ujarnya, dikutip reuters.com.

Di kawasan Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3% pada awal perdagangan. Sebaliknya, indeks Nikkei Jepang naik 0,8% didorong kinerja kuat Fast Retailing, sementara kontrak berjangka saham Eropa menguat 0,4%. Di Wall Street, indeks S&P 500 ditutup mendatar, meski saham sektor kedirgantaraan dan pertahanan mencetak rekor tertinggi.

Pasar juga mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat malam waktu Asia. Data awal menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih lesu, dengan perusahaan memaksimalkan tenaga kerja yang ada.

“Kita membutuhkan kejutan penurunan yang besar dari data ketenagakerjaan untuk benar-benar menggerakkan pasar,” kata Rodda. “Karena rilis yang solid akan meyakinkan investor bahwa pasar tenaga kerja AS tetap kuat, sementara sedikit meleset hanya akan meningkatkan peluang pemangkasan suku bunga lebih banyak.”

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun tipis ke 4,169%, sementara indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi satu bulan. Kondisi ini turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sementara itu, harga minyak dunia melanjutkan penguatan dan berada di dekat level tertinggi dua pekan, didorong ketegangan geopolitik serta perkembangan situasi di Venezuela. Kontrak berjangka Brent naik 0,6% ke US$62,36 per barel, sedangkan WTI menguat 0,5% ke US$58,04 per barel.

Kenaikan harga minyak dan penguatan dolar menjadi faktor eksternal yang menambah tekanan terhadap rupiah pada awal perdagangan hari ini.(DH)