Survei EY: Minat EV di Singapura turun, kembali pilih mobil bensin
Minggu, 11 Januari 2026

JAKARTA - Minat pengemudi Singapura terhadap kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, dengan semakin banyak konsumen yang kembali mempertimbangkan mobil berbahan bakar bensin atau bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).Menurut The Business Times (11/1), mengutip laporan Mobility Consumer Index (MCI) 2025 EY, sebanyak 32 persen responden di Singapura berencana membeli kendaraan mobil bensin/solar lagi dalam dua tahun ke depan, meningkat dari 26 persen pada 2024.Lonjakan ini terjadi di tengah menurunnya minat terhadap EV, meskipun Singapura selama ini dipandang sebagai salah satu pasar terdepan dalam adopsi kendaraan listrik di Asia Tenggara.Berdasarkan laporan tersebut, kekhawatiran terhadap keterbatasan infrastruktur pengisian daya serta potensi biaya tersembunyi menjadi alasan utama konsumen menahan minat membeli EV.Survei terhadap sekitar 300 calon pembeli mobil di Singapura menunjukkan bahwa persoalan jaringan pengisian daya yang belum merata dan mahalnya biaya penggantian baterai mengalahkan optimisme awal terhadap mobilitas ramah lingkungan.Pergeseran preferensi ini sejalan dengan tren global. Menurut laporan yang sama, sekitar 50 persen responden secara global menyatakan kemungkinan membeli kendaraan ICE, naik dari 37 persen pada 2024. Meski demikian, tingkat preferensi ICE di Singapura masih berada di bawah rata-rata global.Sriram Changali, Industrialist Leader EY-Parthenon untuk ASEAN dan Singapura, menyebut bahwa hasil survei tahun ini mencerminkan sikap konsumen yang lebih berhati-hati. Ia mengatakan bahwa jika pada tahun lalu konsumen menunjukkan optimisme kuat terhadap EV, kini mereka mulai kembali mempertimbangkan opsi ICE dengan pendekatan yang lebih realistis terhadap biaya dan kenyamanan kepemilikan, dikutip dari The Business Times (11/1).Walau sentimen terhadap EV mendingin, Singapura tetap mencatat tingkat adopsi yang relatif tinggi dibandingkan kawasan lain.Minat membeli EV dalam dua tahun ke depan masih mencapai 58 persen pada 2025, meski turun dari 73 persen pada 2024. Angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di level 43 persen.Di sisi pasar, produsen EV asal China, BYD, sempat menjadi merek mobil terlaris di Singapura pada Mei 2025, bahkan mengungguli Toyota untuk pertama kalinya. Pangsa pasar BYD tercatat mencapai 19,7 persen dalam sembilan bulan pertama 2025.Namun demikian, perusahaan tersebut juga meluncurkan mobil bermesin bensin di Singapura pada Juli, menandai pendekatan yang lebih fleksibel terhadap permintaan pasar.Data menunjukkan kendaraan listrik menyumbang sekitar 43 persen dari total pendaftaran mobil baru di Singapura dalam sembilan bulan pertama 2025. Angka ini meningkat dibandingkan 33,8 persen sepanjang 2024 dan 18,2 persen pada 2023.Meski tren jangka panjang masih mengarah pada elektrifikasi, sejumlah pelaku industri menilai transisi tidak akan berlangsung secara instan.Chandra Asri, penyedia solusi kimia dan infrastruktur di Asia Tenggara, memperkirakan akan ada periode transisi yang dikelola, di mana kendaraan berbahan bakar bensin tetap digunakan bersamaan dengan meningkatnya permintaan EV.Pemerintah Singapura sendiri menargetkan hanya kendaraan dengan “energi yang lebih bersih” yang dapat didaftarkan sebagai mobil baru mulai 2030.Secara global, EY mencatat minat terhadap kendaraan ICE meningkat di Amerika, Eropa, dan Asia-Pasifik, sementara niat membeli EV berbasis baterai menurun di pasar-pasar utama. Perubahan kebijakan, termasuk penyesuaian insentif pajak EV di Amerika Serikat serta target emisi yang terus berkembang, turut membentuk dinamika tersebut.Di Singapura, kekhawatiran konsumen terutama berkisar pada kualitas pengisi daya publik, interoperabilitas antarjaringan, serta tingginya biaya penggantian baterai.Dikutip dari The Business Times (11/1), lebih dari separuh responden menyebut isu pengisian daya sebagai hambatan utama, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas infrastruktur dan edukasi publik masih menjadi kunci dalam mendorong adopsi EV secara berkelanjutan.Selain itu, studi EY menemukan bahwa pembeli EV di Singapura cenderung lebih memilih membeli kendaraan secara offline melalui dealer fisik dibandingkan pembeli ICE. Preferensi ini didorong oleh kebutuhan akan panduan langsung terkait pengisian daya, usia baterai, serta fitur-fitur baru yang belum sepenuhnya dipahami konsumen.Responden juga menunjukkan sikap berhati-hati terhadap teknologi canggih lainnya. Meski minat terhadap fitur keselamatan dan navigasi terhubung cukup tinggi, tingkat kenyamanan terhadap teknologi mengemudi otonom masih rendah karena kekhawatiran akan risiko kecelakaan dan kegagalan sistem.Faktor harga tetap menjadi pertimbangan utama dalam keputusan pembelian kendaraan. Tingginya biaya layanan kendaraan terhubung serta premi Certificate of Entitlement (COE) yang diperkirakan tidak akan turun signifikan tahun ini, meski pasokan meningkat sekitar 20 persen, semakin menegaskan sensitivitas harga yang membentuk pasar otomotif Singapura. (SA)