Tarif Trump ternyata berdampak menaikkan pengangguran dibanding inlasi
Minggu, 11 Januari 2026

JAKARTA — Dampak kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai lebih terasa pada pasar tenaga kerja dibandingkan pada harga barang konsumsi, meskipun sebelumnya banyak ekonom memperkirakan tekanan inflasi dan lonjakan pengangguran akan terjadi secara bersamaan.Menurut laporan CNN (11/1), saat Trump memberlakukan serangkaian tarif baru sepanjang tahun lalu, para ekonom memperingatkan potensi kenaikan harga dan memburuknya kondisi ketenagakerjaan. Dengan sebagian besar data ekonomi 2025 kini tersedia, hasilnya menunjukkan dampak yang tidak sepenuhnya sesuai dengan perkiraan awal.Harga sejumlah komoditas impor seperti daging sapi, kopi, dan tomat memang melonjak signifikan pada 2025. Namun secara keseluruhan, kenaikan harga konsumen relatif terbatas dan tidak menunjukkan lonjakan besar.Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan di pasar tenaga kerja yang justru menunjukkan pelemahan lebih jelas.Berdasarkan laporan CNN (11/1), rata-rata pertumbuhan lapangan kerja bulanan di Amerika Serikat pada 2025 tercatat sebagai yang terendah dalam beberapa dekade, di luar periode resesi. Selain itu, tingkat pengangguran naik 0,4 poin persentase menjadi 4,4% sepanjang tahun lalu, sebagaimana tercermin dalam laporan ketenagakerjaan Desember.Meski pasar tenaga kerja sudah mulai mengetat sejak memasuki 2025, kebijakan tarif berskala besar yang diterapkan Trump beserta berbagai perubahan lanjutan dinilai memperburuk situasi. Ketidakpastian arah kebijakan perdagangan membuat banyak perusahaan memilih menahan rencana ekspansi dan perekrutan.Dikutip dari CNN (11/1), ekonom Universitas Central Florida, Sean Snaith, menyebut tidak ada alasan kuat bagi perusahaan untuk melakukan perekrutan dalam jumlah besar di tengah ketidakpastian kebijakan. Kondisi tersebut, menurutnya, merupakan respons yang rasional dari dunia usaha.Tarif juga mengubah perhitungan bisnis terkait profitabilitas dan investasi. Ekonom senior Center for Economic and Policy Research, Dean Baker, menilai tarif mendorong kenaikan biaya yang menekan laba dan membuat sejumlah investasi yang sebelumnya layak menjadi tidak lagi menguntungkan.Ketidakpastian kebijakan tarif turut berdampak pada perilaku konsumen. Menurut laporan CNN (11/1), Federal Reserve Bank of Richmond mencatat dalam Beige Book terbaru bahwa sejumlah pelaku industri manufaktur melaporkan penurunan pesanan baru karena pelanggan memilih menunda pembelian di tengah ketidakjelasan arah tarif.Di sisi lain, kebijakan perdagangan yang kerap berubah juga membuat perusahaan berada dalam posisi menunggu. Banyak pelaku usaha memilih menyerap kenaikan tarif tanpa langsung membebankannya ke konsumen, sehingga tekanan inflasi tetap relatif terkendali.Namun situasi tersebut berpotensi berubah seiring adanya perkara tarif besar di Mahkamah Agung AS yang dapat membatalkan sejumlah pungutan utama era Trump.Jika hal itu terjadi, perusahaan berpeluang memperoleh pengembalian dana atas tarif yang telah dibayarkan, meski prosesnya diperkirakan memakan waktu lama.Pada akhirnya, meskipun dampak tarif terhadap harga terlihat lebih terbatas, perlambatan perekrutan dan melemahnya pasar tenaga kerja menunjukkan satu benang merah yang sama, yakni ketidakpastian kebijakan ekonomi yang masih membayangi perekonomian Amerika Serikat. (SA)