Kepemilikan India di obligasi AS turun 21%, pertama dalam 4 tahun
Minggu, 11 Januari 2026

JAKARTA - Kepemilikan India atas obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tercatat turun tajam sepanjang 2025.Menurut laporan Moneycontrol (11/1), penurunan ini menjadi yang pertama dalam empat tahun terakhir dan menandai perubahan arah strategi pengelolaan cadangan devisa India di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi serta geopolitik global.Data Bloomberg menunjukkan kepemilikan India atas US Treasury turun sekitar 21% dalam periode 31 Oktober 2024 hingga 31 Oktober 2025, dari sebelumnya US$241,4 miliar menjadi US$190,7 miliar. Penurunan ini mengakhiri tren beberapa tahun terakhir, ketika investasi India di surat utang AS cenderung meningkat atau setidaknya stabil.Penarikan investasi tersebut terjadi meskipun imbal hasil obligasi AS relatif menarik. Sepanjang periode tersebut, yield obligasi acuan US Treasury tenor 10 tahun bergerak di kisaran 4,0–4,8%, level yang umumnya mampu menopang permintaan investor asing. Namun, ekonom menilai langkah India lebih didorong oleh evaluasi strategis atas alokasi cadangan devisa, bukan semata-mata faktor imbal hasil.Dikutip dari Moneycontrol (11/1), ekonom Bank of Baroda, Dipanwita Mazumdar, menilai penurunan kepemilikan US Treasury mencerminkan upaya diversifikasi India sekaligus perubahan strategi devisa negara tersebut.Ia juga menyoroti bahwa berkurangnya eksposur terhadap aset dolar menunjukkan penurunan ketergantungan pada mata uang AS, terutama ketika indeks dolar (DXY) cenderung melemah seiring munculnya tanda-tanda perlambatan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat.Prospek dolar AS yang lebih lemah, ditambah ekspektasi dimulainya siklus pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve, dinilai turut mengurangi daya tarik aset dolar berjangka panjang.Pada saat yang sama, meningkatnya risiko geopolitik global serta fragmentasi perdagangan dan arus keuangan mendorong banyak bank sentral, termasuk Reserve Bank of India (RBI), untuk meninjau ulang komposisi cadangan devisa mereka.Pelaku pasar memperkirakan India akan mengalihkan sebagian cadangannya ke aset alternatif, seperti emas, obligasi negara lain, serta aset non-dolar. Emas kembali menjadi pilihan utama karena perannya sebagai lindung nilai terhadap volatilitas mata uang, risiko inflasi, dan guncangan geopolitik.Mazumdar menambahkan, dalam kondisi politik global yang semakin volatil, kepemilikan emas oleh RBI berpotensi kembali meningkat. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan tren global, di mana bank sentral di berbagai negara terus menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi.Perubahan strategi cadangan devisa India ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas di kalangan negara berkembang. Mereka kini berupaya menyeimbangkan aspek keamanan, likuiditas, dan imbal hasil, sekaligus mengurangi risiko konsentrasi pada aset berdenominasi dolar.Meski dolar AS diperkirakan tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia, langkah India dinilai sebagai sinyal pendekatan yang lebih terukur dan terdiversifikasi dalam menjaga ketahanan eksternal ke depan. (SA)