JP Morgan: AS berpotensi kuasai 30% cadangan minyak dunia

Senin, 12 Januari 2026

image

JAKARTA - Analis JP Morgan menilai hingga 30% cadangan minyak dunia berpotensi jatuh di bawah kendali Amerika Serikat (AS). Terutama jika cadangan Venezuela, Guyana, dan AS terkonsolidasi secara geopolitik dan ekonomi.

Dikutip rigzone.com, pandangan tersebut disampaikan JP Morgan, dalam laporan riset yang ditandatangani Kepala Strategi Komoditas, Natasha Kaneva.

Laporan itu menyebut Venezuela menjadi faktor kunci dalam cadangan minyak dunia. Negara Amerika Latin itu memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, terutama minyak berat yang sangat dibutuhkan oleh kilang-kilang di Amerika Serikat.

Laporan riset JP Morgan menegaskan Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti sebesar 303 miliar barel. “Venezuela mewakili hampir 20% dari cadangan global pada 2024,” ungkap laporan tersebut.

Selain Venezuela, Guyana juga memainkan peran strategis berkat penemuan cadangan minyak dalam beberapa tahun terakhir. Jika digabungkan dengan cadangan konvensional dan non-konvensional AS, para analis menilai posisi Washington akan berubah signifikan dalam peta energi global.

Mereka menyatakan bahwa kondisi ini “dapat membawa AS sebagai pemegang cadangan minyak global terkemuka”.

JP Morgan menilai konsolidasi pengaruh atas cadangan tersebut, berpotensi menggeser dinamika pasar energi internasional.

“Dengan akses dan pengaruh yang lebih besar terhadap sebagian besar cadangan global, AS berpotensi dapat mengendalikan tren pasar minyak dengan lebih efektif,” tulis para analis, seraya menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat membantu menjaga harga minyak tetap dalam kisaran rendah secara historis.

Catatan riset itu juga menyoroti Venezuela sebagai risiko utama sekaligus peluang terbesar bagi pasokan minyak global ke depan.

“Perubahan rezim di Venezuela akan langsung menjadi salah satu risiko positif terbesar bagi prospek pasokan minyak global untuk tahun 2026-2027 dan seterusnya.”

Dalam skenario perubahan politik, produksi minyak Venezuela diperkirakan dapat meningkat tajam hingga 1,3-1,4 juta barel per hari dalam dua tahun, serta berpotensi naik menjadi 2,5 juta barel per hari dalam 10 tahun berikutnya.

Sementara itu, data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa Venezuela hanya menyumbang sebagian kecil produksi global, meski memiliki cadangan terbesar.

Di sisi lain, EIA mencatat Amerika Serikat sebagai produsen minyak mentah dan kondensat terbesar dunia pada 2024, dengan kontribusi hampir 16% terhadap total produksi global.

Hingga kini, pemerintah Venezuela, Gedung Putih, otoritas Guyana, maupun American Petroleum Institute belum memberikan tanggapan resmi atas catatan riset JP Morgan. (DH/KR)