Exxon dan Chevron kembali lirik Venezuela usai Maduro tersingkir
Senin, 12 Januari 2026

JAKARTA - Raksasa energi Amerika Serikat (AS) mulai membuka peluang kembali ke Venezuela setelah perubahan politik drastis di negara tersebut.
Exxon Mobil menyatakan siap mengevaluasi rencana kembali masuk ke sektor energi di Venezuela, hampir dua dekade setelah asetnya dinasionalisasi pemerintah setempat.
Dikutip reuters.com, CEO Exxon Mobil Darren Woods menegaskan bahwa Venezuela saat ini masih “uninvestable” dan membutuhkan reformasi hukum besar-besaran, sebelum investasi asing dapat kembali masuk.
Ia menyampaikan pernyataan itu dalam pertemuan di Gedung Putih bersama Presiden AS, Donald Trump, yang berlangsung tidak lama setelah pasukan AS menangkap dan menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
“Dalam jangka pendek, sangat penting bagi kita untuk membentuk tim teknis guna menilai kondisi industri dan aset saat ini, serta memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk membantu masyarakat Venezuela mengembalikan produksi ke pasar,” kata Woods.
Selain itu, Wood menilai Exxon butuh jaminan keamanan, perlindungan investasi jangka panjang, serta reformasi undang-undang hidrokarbon sebelum bisa kembali beroperasi di Venezuela.
“Aset kami telah disita di sana dua kali … untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan membutuhkan beberapa perubahan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Sementara itu, Chevron menyatakan siap mengambil langkah lebih agresif. Wakil Ketua Chevron, Mark Nelson, mengatakan perusahaan dapat langsung meningkatkan pengiriman minyak, dari usaha patungan dengan PDVSA hingga dua kali lipat.
“Kami juga mampu meningkatkan produksi kami… sekitar 50% hanya dalam 18 hingga 24 bulan ke depan,” kata Nelson, menegaskan posisi Chevron sebagai satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela.
Exxon, Chevron, dan ConocoPhillips sebelumnya merupakan mitra utama PDVSA dalam pengembangan Sabuk Orinoco. Namun kebijakan nasionalisasi industri migas pada era Presiden Hugo Chávez membuat Exxon dan ConocoPhillips hengkang dan mengajukan arbitrase internasional, sementara Chevron tetap bertahan melalui kesepakatan khusus.
Venezuela kini telah berutang lebih dari US$13 miliar kepada Exxon dan ConocoPhillips akibat ekspropriasi tersebut. ConocoPhillips bahkan telah berupaya menyita aset PDVSA di luar negeri dan terlibat dalam proses lelang induk Citgo Petroleum di Delaware untuk memulihkan piutangnya.
CEO ConocoPhillips, Ryan Lance, menyatakan bahwa restrukturisasi PDVSA menjadi prasyarat utama jika perusahaan kembali ke Venezuela.
Lance juga menekankan pentingnya keterlibatan perbankan internasional, termasuk Exim Bank, untuk menyediakan pendanaan miliaran dolar guna memperbaiki infrastruktur energi yang rusak.
“ConocoPhillips adalah salah satu kreditor terbesar Venezuela di luar pemerintahan,” kata Lance.
Menanggapi hal tersebut, Trump optimis raksasa minyak AS akan mendapatkan sebagian uang mereka lagi. (DH/KR)