Burry bertaruh lawan Oracle, soroti utang jumbo dan ekspansi cloud
Senin, 12 Januari 2026

JAKARTA - Investor kawakan Michael Burry kembali menarik perhatian pasar setelah mengungkapkan posisi bearish terhadap Oracle Corp.
Dalam unggahan di Substack setelah penutupan pasar Jumat, Burry menyatakan telah memasang opsi jual (put options) atas saham Oracle, serta telah melakukan short-selling terhadap saham teknologi ini dalam enam bulan terakhir.
Dikutip Bloomberg, langkah ini menegaskan sikap skeptis Burry terhadap strategi ekspansi agresif Oracle ke bisnis komputasi awan.
Perusahaan yang selama ini dikenal lewat perangkat lunak berbasis data itu, tengah membangun kapasitas pusat data berskala besar, menuntut belanja modal tinggi, serta membebani posisi utangnya.
“Saya tidak menyukai bagaimana posisinya atau investasi yang sedang dilakukan Oracle. Sebenarnya perusahaan ini tidak perlu melakukan ekspansi agresif ini, dan saya tidak tahu mengapa mereka melakukannya. Mungkin ego,” tulis Burry.
Meskipun demikian, ia tidak mengungkapkan rincian nilai maupun jatuh tempo opsi jual tersebut.
Pandangan Burry muncul setelah pergerakan harga saham Oracle bergejolak sepanjang 2025. Pada September, harga sahamnya melonjak 36% sehari usai Oracle merilis proyeksi bisnis cloud, yang dikaitkan dengan lonjakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI).
Namun reli tersebut tak bertahan lama, karena investor kembali mencermati lonjakan belanja modal, struktur sejumlah kontrak cloud, serta membengkaknya beban utang akibat ekspansi pusat data.
Hingga akhir 2025, harga saham Oracle telah turun sekitar 40% dari level puncaknya pada September.
Saat ini, porsi surat utang yang dikeluarkan Oracle telah mencapai sekitar memiliki sekitar US$95 miliar, menjadikannya penerbit obligasi korporasi terbesar di luar sektor keuangan.
Oracle belum memberikan tanggapan atas pertaruhan yang dilakukan Burry.
Burry, yang dikenal luas karena taruhannya melawan pasar perumahan AS menjelang krisis finansial 2008. Namun ia mengaku tak melakukan short-selling terhadap raksasa teknologi yang bisnis intinya jauh melampaui AI, seperti Meta Platforms, Alphabet, dan Microsoft.
“Jika saya melakukan short pada Meta, saya juga berarti melakukan short pada dominasi media sosial dan periklanannya. Jika saya melakukan short pada Alphabet, saya juga melakukan short pada Google Search dalam segala bentuknya, Android, Waymo, dan lain-lain. Jika saya melakukan short pada Microsoft, saya juga melakukan short pada raksasa SaaS produktivitas perkantoran global,” jelas Burry.
Menurut Burry, perusahaan-perusahaan tersebut mampu menyesuaikan anggaran belanja modalnya, menyerap dampak kapasitas berlebih, dan mempertahankan dominasi bisnis inti.
“Ketiganya tidak akan pergi ke mana-mana,” ujarnya.
Ia juga menyatakan akan melakukan short terhadap OpenAI, jika valuasinya mencapai US$500 miliar.
Sementara itu Burry juga menyampaikan pandangannya terhadap saham Nvidia, yang dinilai sebagai menjadi instrumen paling terkonsentrasi untuk mengekspresikan sikap bearish terhadap tren AI.
“Nvidia juga adalah yang paling dicintai dan paling sedikit diragukan,” tulis Burry. “Karena itu, melakukan short terhadapnya relatif murah, dan opsi jualnya lebih murah dibandingkan beberapa target short besar lainnya yang lebih banyak diragukan.” (DH/KR)