VanEck ungkap emas tembus US$184.000 dalam skenario ini
Rabu, 14 Januari 2026

JAKARTA – Tim Emerging Markets Bond VanEck menghitung valuasi emas secara teoretis, dapat mencapai kisaran US$184.000 per troi ons, apabila emas kembali berfungsi sebagai cadangan global yang menopang sistem moneter.
Dalam laporan risetnya, tim VanEck membandingkan jumlah peredaran uang dunia dengan cadangan emas resmi yang dimiliki masing-masing negara, lalu dihitung berdasarkan transaksi valuta asing (valas) harian.
“Kami membagi jumlah uang (M0 dan M2) dengan cadangan emas bank sentral,” tulis tim riset VanEck, yang melibatkan Portfolio Manager Eric Fine, Chief Economist Natalia Gurushina, dan Deputy Portfolio Manager David Austerwell.
Ketiganya menyebut pendekatan ini berupaya mengukur tekanan neraca bank sentral, apabila emas kembali menjadi jangkar nilai mata uang.
Hasil simulasi VanEck menunjukkan, jika emas kembali menjadi penopang M0 atau jumlah uang beredar dalam artian sempit, harga implisit emas berada di kisaran US$39.210 per troi ons.
Namun harga implisitnya, ungkap tim riset VanEck, akan lebih tinggi jika komoditas logam mulia ini menopang M2 atau uang yang beredar lebih luas.
“Harga emas yang ekuivalen dengan posisi M2 dunia saat ini adalah $184,211,” tulis VanEck dalam ringkasan perhitungannya.
Tim riset VanEck menambahkan bahwa skenario ini telah menjadi perhatian, terutama setelah krisis keuangan global dan Amerika Serikat (AS) mendesak agar cadangan devisa Rusia disita.
Skenario ini juga kembali memunculkan pertanyaan besar, “bagaimana jika emas menggantikan dolar Amerika serikat (AS) sebagai standar cadangan bank sentral dalam arti sebenarnya?”
Di sisi lain, tim riset VanEck memetakan situasi yang terpecah di berbagai negara. Misalnya di Inggris dan Jepang, rasio kewajiban uang yang beredar jauh lebih besar dari cadangan emasnya.
Berbanding terbalik dengan Rusia dan Kazakhstan, yang dinilai punya porsi cadangan emas relatif lebih besar dibanding kewajiban moneternya, sehingga kedua negara ini lebih dekat pada titik keseimbangan dalam skenario standar emas.
Meskipun demikian, VanEck menegaskan simulasi ini bukanlah proyeksi bahwa dunia akan kembali ke standar emas, maupun risiko dolar AS yang akan memudar sebagai patokan mata uang dunia.
“Namun pandangan kami, dolar AS akan berbagi status dengan mata uang lain yang layak, serta obligasi pemerintah emerging market yang berkelanjutan,” tulis tim riset VanEck. (KR)