Bahlil janji setop impor solar usai kilang RDMP Balikpapan beropersi
Rabu, 14 Januari 2026

BALIKPAPAN - Pemerintah menargetkan Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan jadi momentum penguatan ketahanan energi nasional, serta mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan RDMP Kilang Balikpapan menghentikan ketergantungan RI terhadap solar impor.
“Insyaa Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor,” kata Bahlil, Senin (12/1).
Bahlil memaparkan kebutuhan solar nasional saat ini mencapai 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, pasokan biodiesel melalui program B40 menyumbang 15,9 juta kiloliter, sehingga kebutuhan solar murni tersisa 23,9 juta kiloliter.
Dengan produksi domestik yang telah mencapai 26,5 juta kiloliter per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar, baik untuk jenis CN 48 maupun CN 51 mulai pertengahan 2026.
Untuk bensin, kata Bahlil, kebutuhan nasional tercatat sekitar 38,5 juta kiloliter per tahun, yang terdiri atas RON 90 sebanyak 28,9 juta kiloliter, RON 92 sebesar 8,7 juta kiloliter, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kiloliter.
Dengan optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, Indonesia bisa meningkatkan produksi bahan bakar dengan di atas RON 90 hingga 5,8 juta kiloliter per tahun, serta menekan impor bahan bakar 3,6 juta kiloliter per tahun.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan penerapan E10 yang diperkirakan mampu menekan impor bahan bakar hingga 3,9 juta kiloliter per tahun.
“Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” ujar Bahlil.
Sebagai catatan, RDMP Balikpapan dilengkapi fasilitas utama berupa Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).
Optimasi kilang ini akan meningkatkan kapasitas produksi 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari.
Proyek ini juga terintegrasi dengan tangki penyimpanan Lawe-Lawe berkapasitas 2 juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter, untuk mendukung distribusi BBM di wilayah Indonesia timur.
Bahlil menegaskan kualitas produk kilang hasil pengembangan tersebut semakin ramah lingkungan. “Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission,” katanya. (DK/KR)