Citigroup: Kinerja perak akan ungguli emas
Kamis, 15 Januari 2026

JAKARTA - Citigroup memproyeksikan reli kuat harga logam mulia akan berlanjut hingga awal 2026, dengan emas diperkirakan menembus level US$5.000 per ons dan perak mencapai US$100 per ons pada kuartal pertama tahun ini. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme Citi terhadap pasar logam di tengah meningkatnya risiko global.
Mengutip kitco.com, tim analis yang dipimpin Kenny Hu menaikkan target harga jangka pendek emas dan perak, dengan alasan utama berupa meningkatnya ketegangan geopolitik, kelangkaan pasokan fisik, serta ketidakpastian baru terkait independensi Federal Reserve. Faktor-faktor tersebut dinilai masih menopang sentimen positif pasar logam mulia.
Meski emas dan perak telah mencetak rekor tertinggi baru, Citi menegaskan pandangannya bahwa perak akan terus mengungguli emas.
“Prediksi kami sejak lama bahwa perak akan berkinerja lebih baik dan pasar bullish logam mulia akan meluas ke logam industri, serta logam industri akan menjadi pusat perhatian selama periode yang sama, telah membuahkan hasil yang baik,” tulis para analis.
Citi juga menyoroti ketatnya pasokan fisik, terutama pada perak dan kelompok logam platinum. Ketidakpastian seputar keputusan tarif Critical Minerals Section 232 dinilai membawa risiko biner besar pada arus perdagangan dan harga yang berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar.
Dalam skenario tarif tinggi, Citi memperingatkan potensi lonjakan harga ekstrem akibat penumpukan logam di Amerika Serikat.
Namun, setelah ada kejelasan kebijakan, arus logam tersebut diperkirakan akan berbalik keluar AS dan menekan harga global. Citi menambahkan bahwa “Anjloknya harga perak akibat arus keluar dana yang dipicu oleh S232 dapat menyebabkan aksi jual taktis di seluruh logam mulia dan logam dasar lainnya,” meski kondisi tersebut tetap dipandang sebagai peluang beli dalam tren bullish jangka panjang.
Ke depan, Citi memperkirakan ketegangan geopolitik akan mereda setelah kuartal pertama, yang dapat mengurangi permintaan aset lindung nilai. Dalam kondisi tersebut, emas dinilai paling rentan terhadap koreksi harga, sementara logam industri seperti aluminium dan tembaga diproyeksikan menjadi pendorong utama pasar pada paruh kedua 2026. (DH)