Reli logam mulia menguat, perak cetak rekor tembus US$90
Kamis, 15 Januari 2026

JAKARTA - Harga perak menembus rekor baru di atas US$90 per troi ons untuk pertama kalinya, sementara emas mendekati level tertinggi sepanjang masa, didorong oleh kombinasi tekanan terhadap Federal Reserve, peluang pemangkasan suku bunga AS lanjutan, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Dilansir dari finance.yahoo.com, perak sempat melonjak hingga 5,3% dan menyentuh US$91,5535 per troi ons. Pada saat yang sama, emas bergerak kurang dari US$10 dari rekor tertingginya.
Data inflasi inti AS Desember tercatat lebih rendah dari perkiraan, meski ekonom menilai angka tersebut tertekan secara artifisial akibat penutupan pemerintah AS terpanjang dalam sejarah.
Meski The Fed diperkirakan menahan pemangkasan suku bunga selama beberapa bulan, pasar swap masih memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan tambahan tahun ini.
Logam mulia mencatat awal tahun yang kuat, melanjutkan reli tajam sepanjang 2025.
Kekhawatiran kembali muncul setelah mencuatnya potensi dakwaan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang memicu isu independensi bank sentral.
Sejumlah bank sentral dunia menyatakan dukungan terhadap Powell, sementara CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menilai langkah tersebut berisiko menjadi bumerang.
Permintaan aset lindung nilai juga menguat di tengah dinamika geopolitik, mulai dari penangkapan pemimpin Venezuela oleh Presiden AS Donald Trump, ancaman baru terhadap Greenland, hingga gelombang protes keras di Iran yang berpotensi mengguncang rezim.
Citigroup bahkan menaikkan proyeksi tiga bulan untuk emas dan perak masing-masing menjadi US$5.000 dan US$100 per ons.
Menurut CIO Lotus Asset Management, Hao Hong, perak turut diuntungkan oleh pergeseran investasi ke komoditas. Ia menilai reli masih memiliki ruang besar, dengan potensi harga menembus US$150 per troi ons pada akhir tahun.
Sepanjang tahun lalu, perak mengungguli emas dengan lonjakan sekitar 150%, dipicu short squeeze pada Oktober, ketatnya pasokan di London, serta aksi spekulatif.
Pelaku pasar kini mencermati hasil investigasi Section 232 AS yang berpotensi memicu tarif impor perak.
Analis Zijin Tianfeng Futures, Liu Shiyao, menyebut kekhawatiran tarif membuat banyak pasokan perak tertahan di AS, sehingga membatasi aliran ke pasar global.
Minat spekulatif pun melonjak dari Shanghai hingga New York, tercermin dari volume transaksi tinggi di Comex dan Shanghai Futures Exchange sejak akhir Desember.
Pada perdagangan Asia, perak naik 4,6% ke US$90,9590 per ons, sementara emas menguat 0,9% ke US$6.626,43.
Platinum dan paladium masing-masing melonjak lebih dari 4%, dengan indeks dolar Bloomberg relatif stabil.
Meski demikian, strategi pasar global Invesco Asset Management David Chao memperkirakan permintaan emas dan perak sebagai lindung nilai inflasi dan ketidakstabilan keuangan tetap berlanjut tahun ini, meski laju kenaikan tidak sekuat 2025.
Ia menilai emas berpotensi kembali mengungguli perak di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat. (DK)