Mengapa Iran tak bisa padamkan internet selamanya, meski dunia diam?
Sabtu, 17 Januari 2026

[ DARA CONDUIT - The University of Melbourne ] -- Saat warga di seluruh dunia bersiap menyambut tahun baru, rakyat Iran justru mulai turun ke jalan untuk memprotes krisis ekonomi yang kian memburuk di negara mereka. Dipicu oleh terus melemahnya mata uang Iran terhadap dolar AS, serta inflasi yang melumpuhkan, gejolak ini merupakan yang terbaru dari rangkaian panjang penderitaan ekonomi dan gelombang protes selama bertahun-tahun.
Rezim Iran pada awalnya mengakui legitimasi keluhan para demonstran, dengan membagikan kupon bantuan tunai yang sangat tidak memadai—hanya senilai US$7—untuk membantu biaya hidup.
Namun sejak itu, rezim mengambil langkah yang jauh lebih keras. Menurut angka resmi pemerintah sendiri, hingga hari ini sedikitnya 2.000 orang telah tewas. Meski demikian, para demonstran dengan berani terus turun ke jalan.
Seperti jarum jam yang berputar tepat waktu, Kamis lalu rezim kembali mengerahkan salah satu alat pengendalian populasi paling ampuh yang dimilikinya: pemadaman internet. Dalam enam hari terakhir, warga Iran hampir sepenuhnya terputus dari internet. Upaya alternatif untuk mengakses jaringan, seperti terminal Starlink yang diselundupkan, terbukti tidak andal karena adanya pengacauan sinyal satelit.
Sementara dunia menanti apakah Presiden AS Donald Trump akan menepati ancamannya untuk mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran mengeksekusi para demonstran, kenyataannya—bahkan tanpa aksi internasional sekalipun—rezim Iran tidak mampu mempertahankan pemadaman internet ini tanpa batas waktu.
Baca juga: The use of military force in Iran could backfire for Washington
Mengapa Rezim Blokir InternetRezim Iran telah menggunakan pemadaman internet sejak protes Gerakan Hijau setelah pemilu presiden 2009 yang disengketakan. Langkah ini merupakan alat yang sangat efektif untuk menghentikan warga berkomunikasi dengan dunia luar maupun satu sama lain.
Hal ini membatasi pengorganisasian oposisi, karena orang-orang tidak dapat bergabung dalam aksi protes jika mereka tidak tahu di mana protes berlangsung. Pemadaman juga mengisolasi individu, sehingga mereka tidak bisa melihat tindakan keras yang terjadi di luar lingkungan mereka. Selain itu, pemadaman internet mengaburkan sorotan internasional, memungkinkan rezim menindak para demonstran tanpa pengawasan.
Pemadaman internet telah menjadi begitu identik dengan gejolak politik, hingga organisasi non-pemerintah pembela hak digital Article 19 pada 2020 menyatakan, “protes melahirkan pemadaman internet di Iran”.
Pemadaman Internet Itu MahalNamun, adalah keliru jika menganggap rezim Iran memiliki kemampuan tak terbatas untuk mematikan internet. Setiap pemadaman membawa biaya ekonomi dan politik yang sangat tinggi.
Selain memblokir aplikasi pesan instan dan media sosial, pemadaman internet di Iran kerap turut memblokir aplikasi kerja seperti Slack, Skype, Google Meet, dan Jira—yang menjadi tulang punggung operasional bisnis sehari-hari.
Demikian pula, upaya rezim memblokir virtual private networks (VPN) dan koneksi HTTPS yang aman dapat mengacaukan sistem pembayaran perusahaan, autentikasi multi-faktor, bahkan email korporasi.
Pemantau internet global Netblocks memperkirakan pemadaman internet merugikan perekonomian Iran lebih dari US$37 juta per hari. Artinya, dalam enam hari terakhir saja kerugiannya telah melampaui US$224 juta.
Seperti yang saya tulis dalam sebuah artikel jurnal baru-baru ini, kita telah melihat betapa parah dampak ekonomi dari pemadaman internet di Iran.
Selama protes 2022–2023 setelah kematian perempuan Kurdi-Iran Mahsa “Jina” Amini saat dalam tahanan, pemadaman internet membawa dampak yang sangat luas.
Salah satu sumber menyebutkan bahwa volume pembayaran daring di dalam Iran anjlok hingga setengahnya hanya dalam dua minggu pertama protes.
Iran memiliki sektor e-commerce yang cukup dinamis. Sekitar 83% bisnis daring di negara itu diperkirakan menggunakan platform media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan Telegram untuk menghasilkan penjualan. Ketiganya diblokir selama kerusuhan 2022–2023. Sebuah laporan kemudian menemukan bahwa pemblokiran Instagram dan gangguan internet berkala selama 17 bulan setelah protes menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US$1,6 miliar.
Selama beberapa dekade, rezim telah bekerja keras membangun internet domestik yang diharapkan dapat mengurangi sebagian kerusakan ini, namun sejauh ini upaya tersebut gagal.
Kebutuhan teknologi rezim yang sangat besar—baik untuk pengawasan maupun untuk menopang ekonomi modern bagi sekitar 92 juta penduduk—telah mendorong munculnya sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK) semi-swasta yang besar di Iran. Ini mencakup penyedia layanan internet, operator jaringan seluler, dan sektor TI yang luas.
Hanya enam minggu setelah protes 2022 dimulai, CEO operator seluler RighTel menulis surat terbuka kepada Menteri TIK Issa Zarepour, mengeluhkan bahwa pengetatan digital telah melumpuhkan bisnis perusahaannya. Ia menegaskan bahwa RighTel telah mematuhi “prioritas dan persyaratan keamanan” rezim selama pemadaman, dan menuntut kompensasi—atau RighTel mungkin terpaksa keluar dari pasar.
Tuntutan serupa disuarakan dalam surat-surat lain yang ditulis secara tertutup (namun kemudian bocor) oleh penyedia layanan komunikasi lainnya.
Mereka bukanlah para pengkritik alami rezim. Justru sebaliknya, pemadaman internet menciptakan dinamika berbahaya, di mana bahkan pihak-pihak yang dekat dengan kekuasaan mulai teralienasi, melahirkan kelas baru calon demonstran yang suatu hari bisa bergabung dengan mereka yang turun ke jalan.
Mengapa Tak Bisa Berlangsung SelamanyaInilah sebabnya pemadaman internet saat ini merupakan strategi yang berisiko. Meski rezim berhasil menyembunyikan sebagian besar tindakan keras berdarahnya, langkah ini berpotensi semakin memicu kemarahan kelas ekonomi yang sudah terhimpit.
Pada 2022–2023, pemadaman dilakukan secara terarah—terutama di kota-kota tertentu atau pada jam-jam tertentu ketika protes diperkirakan terjadi. Sebaliknya, pemadaman kali ini bersifat nasional.
Saat ini, hanya sekitar 1% koneksi internet di Iran yang masih aktif (itulah sebabnya pemimpin tertinggi masih bisa dengan leluasa menggunakan X untuk menyebarkan propaganda). Ini berarti dampak ekonomi dan politik dari pemadaman kali ini, jika terus berlanjut, bisa dengan mudah melampaui dampak pada 2022–2023.
Mengingat kesulitan ekonomi Iran merupakan pemicu utama keresahan saat ini, pemadaman internet yang berkepanjangan justru dapat mendorong lebih banyak orang turun ke jalan. Rezim sepenuhnya menyadari risiko tersebut.
Dara Conduit, ARC DECRA Fellow, The University of Melbourne
This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.