JAKARTA - Runtuhnya ritel mewah di Amerika Serikat Saks Global Enterprises yang resmi mengajukan kebangkrutan pada Selasa malam, menambah daftar panjang kolapsnya peritel besar AS dalam satu dekade terakhir, di tengah ketatnya persaingan dengan peritel big-box dan platform belanja daring.Saks Global, seperti dikutip Reuters, Jumat (16/1), merupakan konglomerasi toko serba ada mewah yang terbentuk usai perusahaan induknya saat itu, Hudson’s Bay, mengakuisisi pesaingnya Neiman Marcus pada 2024.
Grup ini menaungi sejumlah merek peritel mewah ternama, termasuk Saks, Neiman Marcus, dan Bergdorf Goodman. Kebangkrutan yang diajukan pada Januari 2026 tersebut menjadi salah satu keruntuhan ritel terbesar sejak pandemi COVID-19.Gelombang kebangkrutan ritel besar di AS sebenarnya bukan hal baru. Berikut ini beberapa kebangkrutan terbesar di kalangan peritel Amerika:
- Lord & Taylor, salah satu jaringan department store tertua di negara tersebut, mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 pada Agustus 2020 saat pandemi virus corona menghantam sektor ritel.
- Pada periode yang sama, Neiman Marcus juga mengajukan kebangkrutan pada Mei 2020 dan menyelesaikan proses restrukturisasi Chapter 11 pada September di tahun yang sama.
- J.C. Penney turut menjadi korban tekanan industri ritel pada Mei 2020 ketika mengajukan perlindungan kebangkrutan. Perusahaan itu kemudian keluar dari Chapter 11 pada Desember 2020 setelah sebagian besar aset ritel dan operasionalnya diambil alih oleh dua pemilik lahan terbesar, Simon Property Group dan Brookfield Asset Management.
- Setahun sebelumnya, ikon ritel New York, Barneys New York, juga mengajukan kebangkrutan pada Agustus 2019 dan menjual merek serta kekayaan intelektualnya kepada Authentic Brands.
- Sebelum itu, Sears Holdings, induk Sears dan Kmart, mengajukan kebangkrutan Chapter 11 pada Oktober 2018 setelah mengalami penurunan pendapatan selama satu dekade dan menutup ratusan toko. Chairman Eddie Lampert kemudian memenangkan lelang kebangkrutan dengan tawaran sekitar US$5,2 miliar pada Januari 2019, yang memungkinkan jaringan tersebut tetap beroperasi.
Tekanan serupa juga dialami oleh peritel besar AS di luar sektor department store. Dikutip dari Reuters (16/1), berikut sejumlah peritel besar Amerika lainnya yang juga menghadapi kebangkrutan dalam beberapa tahun terakhir:
- Claire’s Stores mengajukan kebangkrutan untuk kedua kalinya pada Agustus 2025 dengan rencana menutup ratusan toko dan mencari pembeli bagi sekitar 800 lokasi tersisa.
- Rite Aid menyusul pada Mei 2025, mengajukan kebangkrutan kedua dalam kurun kurang dari dua tahun setelah restrukturisasi sebelumnya gagal menyelesaikan masalah bisnis jangka panjang.
- Joann Fabrics juga kembali mengajukan perlindungan Chapter 11 pada Januari 2025 akibat kekurangan persediaan.
- Sementara Party City Holdco mengajukan kebangkrutan pada Desember 2024 untuk kedua kalinya dalam dua tahun.
- Pada November 2025, peritel perhiasan Lugano Diamonds mengajukan Chapter 11 guna memfasilitasi penjualan bisnis dan menunjuk Enhanced Retail Funding sebagai penawar awal dalam proses yang diawasi pengadilan.
- Beberapa nama besar lain yang kolaps dalam beberapa tahun terakhir termasuk Bed Bath & Beyond dan Christmas Tree Shops pada 2023, Tailored Brands, Ascena Retail Group, Brooks Brothers, dan J.Crew Group sepanjang 2020, serta Forever 21 yang pertama kali mengajukan kebangkrutan pada 2019 sebelum kembali masuk proses serupa pada Maret 2025.
- Toys “R” Us bahkan sudah lebih dulu mengajukan kebangkrutan pada 2017 dengan beban utang sekitar US$2,5 miliar, yang kala itu menjadi salah satu keruntuhan peritel terbesar di AS sejak Kmart pada 2002. (SA)
Baca juga:
1. https://www.idnfinancials.com/id/news/60450/jaringan-department-store-mewah-saks-global-enterprises-bangkrut