CEO BofA: Stablecoin dapat bunga, deposito US$6 triliun rawan pindah
Sabtu, 17 Januari 2026

JAKARTA - CEO Bank of America (BofA) Brian Moynihan mengatakan kepada para analis dalam paparan kinerja (earnings call) pada hari Rabu (14/1) bahwa hingga US$6 triliun simpanan dapat bermigrasi dari sistem perbankan AS ke stablecoin — angka yang setara dengan sekitar 30% hingga 35% dari total simpanan bank komersial AS.
Perkiraan tersebut, seperti dikutip TheBlock.co, Kamis (15/1), yang menurut Moynihan bersumber dari studi Departemen Keuangan AS, berfokus pada perdebatan legislasi mengenai stablecoin yang memberikan bunga dan dampaknya terhadap kewajiban (liabilities) bank komersial.
Moynihan mengatakan bahwa struktur stablecoin menyerupai reksa dana pasar uang (money market mutual funds), dengan cadangan dana ditempatkan pada instrumen jangka pendek seperti obligasi pemerintah AS (US Treasurys), alih-alih disalurkan kembali ke dalam bentuk kredit perbankan.
Dalam skema ini, menurutnya, dana berada di luar sistem perbankan tradisional, sehingga menggerus basis simpanan yang selama ini digunakan bank untuk menopang pinjaman bagi rumah tangga dan pelaku usaha.
“Jika simpanan ditarik keluar, bank tidak akan mampu menyalurkan kredit atau harus mencari pendanaan grosir, dan pendanaan grosir itu tentu memiliki biaya,” ujar Moynihan.
Upaya legislasi untuk mengatasi kekhawatiran ini saat ini terfokus pada draf kompromi terbaru RUU struktur pasar kripto, yang dirilis oleh Ketua Komite Perbankan Senat, Tim Scott, pada 9 Januari. Draf tersebut mencakup ketentuan yang melarang penyedia layanan aset digital membayar bunga atau imbal hasil kepada pengguna hanya karena memegang stablecoin.
Namun, RUU ini secara khusus membedakan imbalan berbasis aktivitas, dengan mengizinkan insentif yang terkait dengan staking, penyediaan likuiditas, atau penempatan jaminan (collateral), sementara melarang imbalan untuk saldo pasif yang hanya mengendap di akun.
Tekanan terhadap RUU meningkat seiring waktu Senat yang makin sempit.
Pernyataan Moynihan muncul ketika Komite Perbankan Senat menghadapi tekanan tenggat waktu untuk menyelesaikan perbedaan pendapat yang tersisa dalam RUU tersebut.
Seperti sebelumnya dilaporkan oleh The Block, lebih dari 70 amandemen diajukan menjelang agenda pembahasan resmi komite pada hari Rabu, yang mencerminkan lobi intensif dari sektor kripto maupun perbankan.
Aturan mengenai imbal hasil stablecoin bukan satu-satunya isu yang belum terselesaikan. Sejumlah senator dari Partai Demokrat mendorong agar ketentuan etika dimasukkan ke dalam RUU ini.
Dorongan ini muncul setelah laporan Bloomberg memperkirakan bahwa Presiden Donald Trump memperoleh sekitar US$620 juta dari bisnis kripto keluarganya.
Draf terbaru RUU tersebut juga memicu kekhawatiran di luar industri perbankan.
Sebuah laporan dari Galaxy Research yang diterbitkan awal pekan ini memperingatkan bahwa undang-undang tersebut dapat menjadi perluasan terbesar kewenangan pengawasan keuangan sejak Undang-Undang USA PATRIOT Act, dengan merujuk pada wewenang baru Departemen Keuangan AS atas transaksi aset digital.
Di tengah berbagai sengketa ini, satu pemain besar industri menarik dukungannya. CEO Coinbase Brian Armstrong mengumumkan pada hari Rabu bahwa bursa tersebut tidak dapat mendukung RUU tersebut, dengan alasan sejumlah ketentuan yang menurutnya akan mematikan imbalan pada stablecoin.
Kemudian pada hari yang sama, Ketua Komite Perbankan Senat Tim Scott mengumumkan bahwa agenda pembahasan resmi (markup) RUU tersebut ditunda. Scott menyatakan bahwa “semua pihak masih duduk di meja perundingan dan bekerja dengan itikad baik.” (YS)