BlackRock tutup 2025 dengan aset kelolaan tembus rekor US$14 Triliun
Minggu, 18 Januari 2026

JAKARTA – Laba kuartal keempat 2025 BlackRock Inc. (BLK.N) melampaui perkiraan Wall Street pada Kamis (15/1), didorong oleh reli pasar yang mengerek pendapatan berbasis biaya dan mengangkat aset kelolaan perusahaan ke rekor US$14 triliun.
Saham pengelola aset terbesar di dunia itu, seperti dikutip Reuter, melonjak lebih dari 4% setelah BlackRock menaikkan dividen kuartalan sebesar 10% serta meningkatkan otorisasi pembelian kembali saham.
Reli pasar saham AS sepanjang tahun lalu, dipicu antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI), pelonggaran suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, mendorong investor kembali ke strategi indeks berbiaya rendah. Seiring meredanya inflasi dan mendinginnya pasar tenaga kerja, Federal Reserve mengambil sikap yang lebih dovish, sehingga memicu arus masuk kuat ke produk pendapatan tetap (fixed income) BlackRock.
Pada kuartal tersebut, arus masuk ke produk ekuitas mencapai US$126,05 miliar, sedikit turun dari setahun sebelumnya, sementara produk pendapatan tetap mencatat arus masuk US$83,77 miliar.
Secara keseluruhan, arus masuk bersih jangka panjang mencapai sekitar US$267,8 miliar, ditopang kinerja solid bisnis ETF yang menjadi mesin utama pertumbuhan organik perusahaan. Sepanjang 2025, BlackRock membukukan rekor arus masuk bersih tahunan sebesar US$698,3 miliar. Popularitas ETF terus meningkat seiring minat investor pada eksposur pasar yang terdiversifikasi dengan biaya rendah.
Biaya berbasis kinerja (performance fees) melonjak 67% menjadi US$754 juta, mencerminkan kontribusi pendapatan yang lebih tinggi dari pasar privat.
“BlackRock memasuki 2026 dengan momentum yang kian menguat di seluruh platform kami, setelah mencatat tahun dan kuartal terkuat dalam sejarah dari sisi arus masuk bersih,” ujar CEO BlackRock Larry Fink dalam pernyataan resmi.
Meski demikian, saham BlackRock hanya naik 4,4% sepanjang 2025, tertinggal dari indeks acuan S&P 500 (.SPX).
Ekspansi Pasar Privat
Di tengah upaya diversifikasi pendapatan, para manajer aset—termasuk BlackRock—kian menggenjot bisnis berbiaya lebih tinggi di luar produk indeks berbiaya rendah. BlackRock memperdalam eksposur ke pasar privat, real estat, dan infrastruktur, dengan fokus pada aset terkait AI seperti pusat data dan infrastruktur kelistrikan.
Strategi ini ditujukan untuk menjaring sumber modal yang lebih besar dan berjangka panjang, sekaligus membangun aliran pendapatan yang lebih stabil dengan margin lebih tinggi di luar pasar publik tradisional.
Bisnis pasar privat BlackRock menarik arus masuk US$12,7 miliar pada kuartal tersebut. Perusahaan menargetkan penggalangan dana kumulatif US$400 miliar di pasar privat hingga 2030, termasuk rencana memasukkan aset privat ke dalam produk dana pensiun.
Aset privat menghasilkan biaya yang jauh lebih tinggi dibandingkan ETF, yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis BlackRock melalui merek iShares.
Dengan mengecualikan sejumlah biaya satu kali, laba bersih naik menjadi US$2,18 miliar, atau US$13,16 per saham, untuk tiga bulan yang berakhir 31 Desember, dari US$1,87 miliar atau US$11,93 per saham pada periode yang sama tahun sebelumnya. Konsensus analis memperkirakan laba US$12,21 per saham, menurut data LSEG.
Aset kelolaan BlackRock meningkat menjadi US$14,04 triliun pada kuartal tersebut, dari US$11,55 triliun setahun sebelumnya.
Total pendapatan, sebagian besar berasal dari persentase aset kelolaan, naik menjadi US$7 miliar dari US$5,68 miliar, melampaui estimasi analis US$6,69 miliar. Sementara itu, total beban meningkat menjadi US$5,35 miliar dari US$3,6 miliar tahun sebelumnya. (YS)