Panel Afrika desak G20 luncurkan skema refinancing utang negara miskin
Rabu, 19 November 2025

JAKARTA - Sebuah panel ahli Afrika mendorong negara-negara G20 menggagas inisiatif baru refinancing utang bagi negara berpendapatan rendah yang menghadapi tekanan peningkatan pembayaran utang.
Dikutip reuters.com (18/11), dalam laporan yang dirilis di Johannesburg jelang KTT G20 di Afrika Selatan, para ahli menegaskan kebutuhan mendesak akan mekanisme yang mampu memberikan ruang napas fiskal secara cepat.
“Usulan ini akan berfokus pada pembiayaan kembali daripada penjadwalan ulang kewajiban utang.,” demikian pernyataan panel tersebut.
Mereka menilai banyak negara membutuhkan bantuan segera dan skema baru harus memungkinkan pembelian kembali utang mahal melalui pendanaan berbiaya lebih rendah.
Panel menyebut pendanaan dapat berasal dari SDR IMF, termasuk opsi penjualan emas IMF, asalkan didukung para pemegang saham G20.
Dorongan serupa juga datang dari Uni Afrika, meski waktu operasional fasilitas itu masih belum pasti.
Selama memimpin G20, Afrika Selatan berupaya menempatkan isu utang dan perubahan iklim dalam agenda, namun menghadapi resistensi dari Amerika Serikat yang menyatakan tidak akan hadir di KTT tersebut.
Panel juga mendorong pembentukan “klub peminjam” untuk memperkuat posisi negosiasi negara debitur. “Mandat utamanya adalah untuk memperkuat suara debitur dalam negosiasi reformasi arsitektur keuangan dan utang internasional.,” kata panel.
Mereka menilai reformasi mendalam dibutuhkan karena mekanisme penyelesaian utang yang ada termasuk Common Framework masih lamban, seperti terlihat pada kasus Ghana dan Zambia. Naiknya kekhawatiran utang di Senegal dan Mozambik menegaskan urgensi tersebut.
Kerangka baru, kata panel, harus mampu membedakan masalah likuiditas dan solvabilitas serta mencakup seluruh jenis utang, baik domestik maupun eksternal. “Utang negara kembali menjadi hambatan serius bagi pembangunan di Afrika,” ujar panel tersebut.(DH)