CEO Indosat Vikram Sinha: Target tumbuh 2 digit dengan poros utama AI
Senin, 19 Januari 2026

JAKARTA – PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT) menempatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai poros utama strategi pertumbuhan jangka panjang, di tengah perlambatan bisnis konektivitas tradisional yang menekan industri telekomunikasi global.
CEO Indosat Vikram Sinha menilai AI menjadi peluang kedua bagi operator telko setelah kegagalan industri memanfaatkan ledakan ekonomi aplikasi pada era iPhone.
“Kami di telko kehilangan peluang itu. Kami terlalu fokus melihat ke dalam,” kata Sinha kepada The Business Times.
Ia merujuk pada momentum kelahiran App Store pada 2008 yang memicu ekonomi aplikasi bernilai puluhan miliar dolar AS, namun tidak mampu dimonetisasi oleh operator jaringan yang justru hanya menjadi penyedia konektivitas.
Menurut Sinha, momentum serupa kini kembali hadir melalui AI. “Saya pikir peluang yang sama kini diberikan kembali kepada kami melalui AI,” ujarnya.
Ia menilai kombinasi konektivitas dan komputasi menjadi fondasi baru bisnis telko, terutama melalui pendekatan AI yang bersifat sovereign dan dijalankan di edge computing.
Dikutip dari businesstimes.com, Indosat mengklaim berada pada posisi strategis untuk mengembangkan sovereign AI di Indonesia berkat kepemilikan lebih dari 55.000 base transceiver station (BTS). “Kami bisa melakukannya di edge karena kami memiliki 55.000 BTS,” kata Sinha.
Pendekatan edge AI ini dinilai mampu menjawab isu privasi data sekaligus menekan latensi layanan, dua faktor krusial bagi adopsi AI di sektor publik dan industri.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Indosat menggandeng Nokia dan Nvidia membangun “AI Grid” yang mengintegrasikan jaringan telko dengan pusat data AI berbasis GPU Nvidia. Beban kerja AI berskala besar akan ditangani di pusat data, sementara pemrosesan real-time dilakukan di edge untuk meningkatkan kecepatan respons.
Indosat juga telah memulai bisnis GPU-as-a-service sejak 2024 dan menjadi salah satu perusahaan pertama di Asia Tenggara yang mengakses chip Blackwell Nvidia. Hingga Oktober, lebih dari 22 perusahaan domestik tercatat menyewa kapasitas GPU Indosat. Perusahaan menargetkan pendapatan AI hingga US$35 juta pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan dua kali lipat pada periode berikutnya.
Transformasi ini turut ditopang restrukturisasi aset. Indosat memisahkan bisnis serat optik ke entitas FiberCo dengan nilai enterprise mencapai Rp14,6 triliun. Sinha menyebut langkah tersebut strategis karena hasil transaksi akan digunakan untuk mendukung pendanaan 5G sekaligus membangun fondasi ekspansi AI.
Di sisi konsumen, Indosat mengembangkan Sahabat AI bersama GoTo, sebuah large language model berbasis Bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa daerah. Model ini ditujukan untuk memperluas adopsi AI hingga wilayah pedesaan sekaligus mendorong peningkatan konsumsi data.
Sinha menegaskan seluruh langkah tersebut mengacu pada “AI north star” perusahaan. “AI north star kami memiliki tiga pilar. Pertama, Indosat akan menjadi telko yang AI-native. Kedua adalah techco, yakni AI cloud dan keamanan. Pilar ketiga adalah Sahabat,” ujarnya.
Ia menambahkan, strategi AI ini diharapkan membawa Indosat kembali mendekati pertumbuhan inti dua digit. Baca selengkapnya di sini. (DH)