China jadi penentu merger raksasa tambang Rio Tinto–Glencore

Senin, 19 Januari 2026

image

JAKARTA - Rencana merger antara Rio Tinto dan Glencore diperkirakan akan menghadapi pengawasan ketat dari China, dengan potensi tuntutan penjualan aset sebagai syarat persetujuan. Kekhawatiran Beijing berpusat pada isu keamanan pasokan sumber daya dan meningkatnya konsentrasi pasar komoditas utama.

Dikutip reuters.com, kedua perusahaan telah mengonfirmasi pembicaraan merger tahap awal, yang berpotensi melahirkan perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan valuasi lebih dari US$200 miliar. Mengingat China merupakan pasar utama bagi penjualan logam global, persetujuan regulator Beijing dinilai menjadi faktor penentu keberlanjutan kesepakatan tersebut.

Analis memperkirakan otoritas China akan mencermati secara khusus produksi dan pemasaran tembaga serta bijih besi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan Beijing tidak segan meminta divestasi aset untuk meredam kekhawatiran dominasi pasar, sebagaimana terjadi pada akuisisi Xstrata oleh Glencore pada 2013.

Sebelum pembicaraan merger mencuat, Rio Tinto telah menjajaki skema pertukaran aset untuk mengurangi kepemilikan Chinalco, pemegang saham terbesarnya asal China. Sejumlah aset strategis, termasuk proyek Simandou di Guinea dan Oyu Tolgoi di Mongolia, disebut masuk dalam radar pembahasan.

Analis menilai aset di Afrika berpotensi menjadi kandidat utama divestasi, di tengah meningkatnya sensitivitas geopolitik dan berkurangnya penerimaan terhadap investasi China di beberapa kawasan lain. Kompleksitas regulasi, posisi Chinalco, serta dinamika politik global diperkirakan akan menjadikan proses merger ini panjang dan penuh tantangan.(DH)