Bank sentral masih perkuat cadangan emas di tengah fluktuasi harga

Senin, 19 Januari 2026

image

JAKARTA - Harga emas dan perak sempat terkoreksi masing-masing 1,5% dan 5% pada akhir pekan lalu (16/1) setelah reli kuat yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, koreksi harga logam mulia ini dinilai wajar di tengah tren penguatan logam mulia yang masih solid.

Analis menilai penurunan harga saat ini lebih mencerminkan aksi ambil untung jangka pendek, bukan perubahan arah tren. Koreksi justru berpotensi membuka ruang bagi masuknya investor baru.

Misalnya, dikutip goldsilver.com, secara tahunan, perak masih mencatat kenaikan sekitar 24%, mencerminkan daya tariknya sebagai logam industri sekaligus aset lindung nilai.

Untuk emas, salah satu faktor utama penopang harganya tetap berasal dari bank sentral. Sepanjang November 2025 lalu, pembelian emas institusional mencapai 45 ton, dengan total pembelian sepanjang sebelas bulan pertama 2025 menembus 297 ton.

Negara-negara seperti Polandia, Brasil, dan China tercatat sebagai pembeli utama, sementara penjualan emas oleh bank sentral tetap sangat terbatas.

Survei menunjukkan mayoritas bank sentral global berencana meningkatkan cadangan emas pada 2026, dengan proyeksi pembelian mencapai 755 ton, jauh di atas rata-rata sebelum tahun 2022 yang hanya berkisar pada 400-500 ton.

Langkah tersebut mencerminkan strategi diversifikasi cadangan dari aset berbasis dolar, dengan fokus pada stabilitas jangka panjang, bukan fluktuasi harga jangka pendek.

Ketegangan geopolitik juga turut memperkuat daya tarik dan permintaan emas seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal, moneter, dan risiko geopolitik global.

Sebagai catatan, hari ini, Senin (19/1), harga emas kembali naik sekitar 1,5% menembus harga tertinggi di level US$4.666,71 per troi ons. (DH/ZH)