Amerika jual obligasi US$654 miliar dengan yield tertinggi sejak 2025

Senin, 19 Januari 2026

image

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat mencatat penjualan surat utang (US Treasury/obligasi pemerintah) senilai total US$654 miliar dalam sembilan lelang sepanjang pekan ini. Penjualan tersebut mencakup Treasury bills (T-bills), obligasi tenor menengah, serta obligasi jangka panjang, termasuk surat utang Treasury 10 tahun dan 30 tahun.

Dikuip wolfstreet.com, dari total nilai lelang, sekitar US$500 miliar berasal dari T-bills dengan jatuh tempo 4 hingga 26 minggu yang sebagian besar digunakan untuk menggantikan surat utang jangka pendek yang jatuh tempo. Sementara itu, US$154 miliar berasal dari penerbitan obligasi dan surat utang jangka menengah-panjang, termasuk US$50 miliar obligasi Treasury tenor 10 tahun.

Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun melonjak ke level 4,24% pada Jumat, tertinggi sejak 2 September 2025, meskipun Federal Reserve telah memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total penurunan 75 basis poin. Kenaikan imbal hasil ini menunjukkan bahwa pasar obligasi lebih dipengaruhi oleh dinamika penawaran dan kekhawatiran jangka panjang dibandingkan kebijakan moneter jangka pendek.

Penerbitan obligasi Treasury 10 tahun dilakukan melalui tiga lelang dalam satu seri sekuritas dengan kupon 4,0% dan jatuh tempo November 2035. Total penerbitan dalam rangkaian tersebut mencapai US$138 miliar, menggantikan obligasi lama senilai US$66 miliar yang diterbitkan pada 2015–2016 dengan kupon 2,25% dan jatuh tempo pada 2025. Skema ini meningkatkan likuiditas pasar, tetapi sekaligus memperbesar jumlah surat utang yang beredar.

Dampak dari restrukturisasi utang tersebut terlihat pada lonjakan beban bunga pemerintah AS. Pembayaran bunga tahunan atas obligasi 10 tahun meningkat tajam seiring kenaikan nilai penerbitan dan kupon bunga, mencerminkan tekanan fiskal yang kian besar di tengah defisit anggaran yang terus melebar.

Yield yang tinggi dari pemerintah AS merupakan cermin bahwa investor kini meminta harga yang yang lebih tinggi terhadap surat berharga Amerika, padahal sejak dahulu aset tersebut dikenal sebagai safe haven.

Sebelumnya, Ron Temple, Chief Market Strategist di Lazard, memprediksi tahun 2025 menjadi titik berakhirnya era "eksepsionalisme Amerika" di pasar keuangan global.

[[ Eksepsionalisme Amerika (American exceptionalism) adalah keyakinan bahwa Amerika Serikat memiliki posisi yang unik, unggul, dan berbeda secara struktural dibanding negara lain. Dalam konteks pasar keuangan, istilah ini biasanya berarti dolar AS selalu menjadi safe haven, dan obligasi pemerintah AS diperlakukan sebagai aset bebas risiko. ]]

Temple memperingatkan bahwa kekhawatiran mendalam terhadap prospek makro ekonomi Amerika Serikat (AS) akan memicu pergeseran fundamental, di mana investor mulai meninggalkan dolar AS dan aset-aset berisiko lainnya. (DH)

Baca juga:

1. https://www.idnfinancials.com/id/news/59716/lazard-2025-akan-dikenang-sebagai-berakhirnya-status-safe-haven-dolar