Indonesia pangkas kuota nikel 2026, harga global langsung melonjak
Senin, 19 Januari 2026

JAKARTA - Kebijakan Indonesia memangkas kuota produksi bijih nikel untuk 2026 mulai berdampak pada pasar global. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) dan bursa Asia tercatat menguat, seiring kekhawatiran pasokan yang semakin ketat.
Dikutip steelnews.biz, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi bijih nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 di kisaran 250–260 juta ton. Target ini turun hampir 34% dibandingkan RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.
Pemerintah menyatakan pemangkasan kuota dilakukan untuk menyesuaikan produksi tambang dengan kapasitas industri pengolahan dan smelter dalam negeri. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa cadangan bijih nikel berkadar tinggi semakin cepat menipis, sehingga diperlukan langkah pengendalian yang lebih ketat terhadap eksploitasi sumber daya.
Namun, pelaku industri pengolahan nikel menilai kuota tersebut belum mencukupi kebutuhan riil. Mereka memperkirakan potensi kekurangan pasokan bijih nikel bisa mencapai hingga 100 juta ton. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah smelter bahkan dilaporkan harus mengimpor bijih nikel dari negara lain, seperti Filipina, untuk menjaga kelangsungan produksi.
Kekhawatiran pasokan ini mendorong kenaikan harga di pasar. Harga nikel di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melonjak lebih dari 4%, sementara harga di pasar spot China naik sekitar 2,6%. Kenaikan juga terjadi pada nickel pig iron, feronikel, serta produk baja tahan karat, termasuk seri 304 dan 316L.
Di tengah dinamika pasar logam, ketegangan juga muncul dalam ranah perdagangan global. Perjanjian dagang Uni Eropa, Mercosur kembali menghadapi hambatan, baik dari penolakan di Parlemen Eropa maupun ancaman gugatan hukum dari Hungaria. Rencana Uni Eropa mengenakan tarif baja hingga 50% turut memicu kekhawatiran negara-negara Mercosur, terutama Brasil, yang berpotensi mengalami kerugian besar akibat pembatasan akses pasar.(DH)