Rupiah di pasar NDF offshore tembus Rp17.000/US$

Senin, 19 Januari 2026

image

JAKARTA - Data dari Bloomberg menunjukkan kurs rupiah/US$ di pasar offshore NDF (non-deliverable forward) untuk jangka waktu 1 bulan tercatat melemah hingga Rp17.006/US$.

Artinya, harga perkiraan untuk kontrak mata uang rupiah (IDR) terhadap dollar AS (US$) di pasar luar negeri untuk satu bulan ke depan tercatat pada harga Rp17.008/US$ pada hari ini, Senin (19/1), pukul 15:59:33.

Grafik ini menunjukkan bahwa, rupiah mengalami pelemahan yang cukup dalam terhadap dolar AS di pasar NDF 1 bulan, menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Sementara, di pasar spot rupiah tercatat melemah 0,12% pada perdagangan Jumat lalu dan sempat menyentuh level Rp16.924 per dolar AS, bertepatan dengan liburnya pasar keuangan domestik dalam rangka peringatan Isra Mi’raj. Berdasarkan data realtime Bloomberg, rupiah pagi ini di pasar spot diperdagangkan di level Rp16.906 per dolar AS.

Namun, seperti dikutip bloombergtechnoz.com, tak lama kemudian rupiah kembali bergerak melemah sehingga penguatannya menyusut menjadi sekitar 0,2% di posisi Rp16.920 per dolar AS.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi dengan kecenderungan mayoritas menguat.  Yen Jepang naik 0,32%, dolar Singapura menguat 0,19%, renminbi offshore China bertambah 0,12%, ringgit Malaysia naik 0,12%, dan won Korea Selatan menguat 0,13%. Sementara itu, dolar Hong Kong melemah tipis sebesar 0,02%.

Penguatan sejumlah mata uang Asia tersebut sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,16% ke level 99,230, setelah sempat dibuka menguat 0,04% di posisi 99,436 pada awal perdagangan pagi ini.

Secara teknikal, rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini dengan target bergerak menuju kisaran Rp16.890–Rp16.900 per dolar AS. 

Selanjutnya, pelemahan bertahap berpeluang berlanjut hingga ke level Rp16.950 per dolar AS apabila area support kuat sebelumnya berhasil ditembus.

Dalam perspektif jangka menengah atau sepekan ke depan, pergerakan rupiah terkonfirmasi berada dalam tren pelemahan (bearish). 

Apabila rupiah kembali menembus garis tren kanalnya, maka peluang pelemahan hingga menembus Rp17.000 per dolar AS terbuka, bahkan berpotensi mengarah ke Rp17.100 per dolar AS berdasarkan pengamatan pada time frame harian.

Menteri Keuangan Bantah

Mengenai kabar melemahnya tupiah hari ini di pasar spot hingga mendekat Rp17.000/US$, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meneps anggapan bahwa pelemahan itu dipicu oleh mencuatnya kabar Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono akan menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Purbaya menilai spekulasi tersebut tidak berdasar dan tidak mencerminkan faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

"Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana (BI). Wow, orang spekulasi independensinya hilang. Saya pikir enggak akan begitu. Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah," kata Purbaya kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (19/1).

Pergerakan rupiah, lanjut Menkeu,  pada dasarnya ditentukan oleh kondisi fundamental ekonomi nasional. Selama fundamental ekonomi tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan, nilai tukar rupiah diyakini akan kembali menguat. "Ya rupiah kan akan tergantung pada fundamental ekonominya," ujarnya. (DK)