UE mulai blokir minyak Rusia, dunia hadapi volatilitas pasokan
Selasa, 20 Januari 2026

WASHINGTON - Sanksi minyak terbaru Uni Eropa mulai menekan pendapatan Rusia secara signifikan.
Pada suatu malam yang berawan di Izmit, Turki barat, sebuah kapal tanker berbendera Panama bernama Bela 6 berlabuh dan menyalurkan hampir 100.000 ton minyak Rusia.
Mengutip dari oilprice.com, pengiriman pada 6 Januari tersebut menjadi pengecualian, mengingat pemilik kilang, Tupras, telah memangkas impor minyak mentah Rusia hingga 69% pada bulan sebelumnya.
Langkah itu dilakukan menjelang berlakunya sanksi Uni Eropa pada 21 Januari, berdasarkan data Center for Research on Energy and Clean Air (CREA).
Aturan baru tersebut melarang masuknya produk turunan minyak mentah Rusia ke wilayah Uni Eropa dan menjadi upaya terbaru untuk memangkas sumber pendanaan Moskow dalam perang di Ukraina.
Dampaknya paling terasa bagi kilang di Turki dan India yang selama ini mengimpor minyak Rusia, mengolahnya menjadi produk seperti bahan bakar jet, diesel, atau komponen blending, lalu mengekspornya ke pasar Eropa.
Jika digabungkan dengan sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak besar Rusia pada akhir tahun lalu, pemblokiran pasokan Venezuela oleh AS, serta ketidakpastian terkait potensi serangan militer AS ke Iran, kebijakan Uni Eropa ini memperbesar volatilitas pasokan minyak global.
“Kita berada dalam lingkungan yang luar biasa, dengan gejolak geopolitik global yang sangat kuat,” ujar David Edward dari General Index, perusahaan intelijen pasar komoditas berbasis di London, dalam sebuah webinar pada 14 Januari.
Tekanan tersebut terjadi di tengah proyeksi surplus minyak global pada 2026, akibat produksi yang tinggi dan anjloknya harga minyak sepanjang 2025.
Kondisi ini telah menekan pendapatan minyak Rusia ke level terendah sejak 2022, menurut Badan Energi Internasional (IEA).
Larangan Uni Eropa ini diumumkan sebagai bagian dari paket sanksi ke-18 pada Juli lalu, sehingga memberi waktu bagi kilang untuk menyesuaikan pasokan.
Analis Kpler, Sumit Ritolia, menyebut kebijakan tersebut akan segera menjadi sorotan global. Ia menambahkan bahwa kilang-kilang besar di India telah melakukan “sanksi mandiri” dengan menghentikan pembelian minyak Rusia.
“Untuk Turki, mereka masih mengimpor minyak Rusia, tetapi volumenya terus turun, sekitar 20–30%,” katanya.
CREA mencatat impor minyak mentah Rusia oleh India turun 29% pada Desember 2025, ke level terendah sejak penerapan batas harga G7 tiga tahun lalu.
Penurunan ini juga dipengaruhi oleh sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil, dua produsen minyak terbesar Rusia.
Meski demikian, para pengkritik memperingatkan adanya potensi pengelabuan, di mana kilang menyamarkan asal minyak mentah dalam produk olahannya untuk menghindari sanksi Uni Eropa.
Selain itu, pengecualian bagi sejumlah negara, seperti Inggris dan Serbia, dinilai membuka celah bagi produk minyak hasil olahan minyak Rusia untuk diekspor kembali ke pasar Uni Eropa. (DK)