BI bendung pelemahan rupiah dengan tahan suku bunga?
Selasa, 20 Januari 2026

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya pada Rabu mendatang guna membendung pelemahan rupiah, sembari terus mendorong perbankan meneruskan dampak pemangkasan suku bunga sebelumnya kepada para peminjam.
Proyeksi tersebut berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.
Sejak Oktober, bank sentral menghentikan siklus pelonggaran kebijakan moneter karena fokus bergeser dari menopang pertumbuhan ekonomi ke menjaga stabilitas nilai tukar.
Sepanjang tahun lalu, rupiah melemah sekitar 3,5 persen, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia dan memaksa BI melakukan sejumlah intervensi.
Ekonom Senior ASEAN OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran, menilai tekanan depresiasi yang berkepanjangan pada rupiah membatasi ruang BI untuk memberikan stimulus tambahan dalam jangka pendek.
Seperti dikutip reuters.com, menurutnya, kondisi tersebut membuat bank sentral sulit memprioritaskan dukungan terhadap pertumbuhan.
Minimnya penurunan suku bunga kredit perbankan meski BI telah memangkas suku bunga kebijakan, ditambah pelemahan rupiah, semakin mempersempit ruang pelonggaran lanjutan.
Tekanan terhadap mata uang juga diperparah oleh arus keluar dana asing dari pasar obligasi domestik.
ANZ Research mencatat investor asing menarik sekitar US$6,5 miliar dari pasar obligasi pemerintah Indonesia sepanjang tahun lalu dan tetap menjadi penjual bersih selama enam bulan terakhir.
Kekhawatiran terhadap posisi fiskal turut memperburuk kondisi tersebut, seiring kekhawatiran investor bahwa kebijakan belanja populis Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat pada 2024 berpotensi melemahkan kredibilitas fiskal.
Defisit anggaran 2025 diperkirakan mencapai 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB), level terlebar dalam lebih dari dua dekade di luar periode pandemi dan mendekati batas maksimal 3 persen dari PDB yang diatur undang-undang.
Sebanyak 26 ekonom yang disurvei pada 13–19 Januari memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan tujuh hari reverse repo di level 4,75 persen pada 21 Januari.
Suku bunga fasilitas simpanan dan pinjaman semalam juga diproyeksikan tetap masing-masing di 3,75 persen dan 5,50 persen.
Sementara itu, suku bunga kredit perbankan hanya turun 24 basis poin menjadi 8,96 persen hingga November dari 9,20 persen pada awal 2025, meskipun BI telah memangkas suku bunga kebijakan secara kumulatif sebesar 150 basis poin sejak September 2024.
BI berulang kali meminta bank-bank menurunkan biaya pinjaman dan menawarkan insentif berupa pelonggaran giro wajib minimum bagi perbankan yang lebih agresif memangkas suku bunga kredit.
Namun, permintaan kredit masih tergolong lemah.
Meski jeda suku bunga diperkirakan berlanjut bulan ini, mayoritas ekonom menilai peluang pemangkasan tetap terbuka ke depan.
Sebanyak 12 dari 23 ekonom memproyeksikan BI akan memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4,50 persen pada akhir kuartal I, sementara sisanya memperkirakan suku bunga tidak berubah.
Pandangan serupa juga terlihat untuk kuartal II, dengan 12 dari 22 ekonom memperkirakan suku bunga turun ke 4,25 persen.
Proyeksi median menunjukkan suku bunga bertahan di level tersebut hingga akhir 2026.
“Kami masih memperkirakan dua kali pemangkasan tambahan sebelum mencapai suku bunga terminal.
Meski kebijakan fiskal dapat mendorong aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, secara struktural konsumsi domestik masih relatif lemah,” ujar ekonom Oxford Economics, Adam Ahmad Samdin. (DK)