Isu perebutan Greenland beri potensi saham emas ini lanjut reli?

Rabu, 21 Januari 2026

image

JAKARTA – Analis PT Ina Sekuritas memberikan gambaran pergerakan saham emiten emas milik kongsi Salim dan Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), pada hari ini, Rabu (21/1).

Harga emas masih melanjutkan relinya, dipicu oleh ketegangan geopolitik pascaancaman tarif tambahan oleh Presiden Trump kepada beberapa negara Eropa Barat anggota NATO sebesar 10%.

Tarif tersebut akan berlaku pada barang-barang yang diimpor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Belanda, Jerman, Finlandia, dan Inggris, dan disebut akan berlaku mulai 1 Februari 2026.

Bahkan, Trump hendak menaikkan tarif tersebut menjadi 25% pada 1 Juni 2026 mendatang jika tak ada kesepakatan yang diraih antara AS dan negara-negara tersebut terkait niat Trump untuk membeli Greenland.

Di sisi lain, para pemimpin wilayah Greenland, yang merupakan wilayah otonom Denmark, serta pemerintah Denmark, kembali menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual.

Ketegangan geopolitik ini membawa harga emas global juga meroket tinggi, menembus US$4.800 per hari ini, Rabu (21/1). BRMS, sebagai emiten tambang emas, mengikuti tren tersebut.

Sahamnya kini bergerak dalam tren bullish, membentuk swing high & low, dan menguji golden ratio Fibonacci.

Analis menilai jika harga dapat melewati level Rp1.310, maka saham BRMS berpotensi menguat hingga resistance berikutnya di level Rp1.410-Rp1.420, dengan support terdekat di Rp1.250-Rp1.210.

Sebagai catatan, BRMS merupakan anak PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berfokus pada tambang emas dan mineral lainnya, termasuk seng, timah, dan tembaga, di wilayah Sulawesi dan Sumatra Utara.

Analisis lebih lengkap mengenai pergerakan saham BRMS dapat dilihat di video berikut. (ZH)