Standard Chartered ramal dolar AS menguat, Asia melambat di 2026

Rabu, 21 Januari 2026

image

JAKARTA - Standard Chartered memproyeksikan dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan pertumbuhan ekonomi Asia melambat pada 2026, seiring ketahanan ekonomi AS yang terus melampaui ekspektasi.

Bank multinasional asal Inggris itu, menilai tidak ada urgensi bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, lantaran prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang solid.

Dikutip businesstimes.com, Global Head of Research dan Chief Strategist Standard Chartered, Eric Robertsen, mengatakan kinerja ekonomi AS terus memberikan kejutan positif dibandingkan ekspektasi pasar.

“Dibandingkan dengan ekspektasi yang cukup suram, ekonomi AS terus memberikan kejutan,” ujarnya.

Sementara permintaan domestik dinilai tetap kuat, didukung investasi dan reli pasar saham, sementara tingkat pemutusan hubungan kerja masih rendah, meski pertumbuhan lapangan kerja melambat.

Standard Chartered juga melihat indikasi yang semakin jelas bahwa kebijakan tarif mulai mendorong inflasi barang di AS. Kondisi ini membuat pembuat kebijakan cenderung berhati-hati, agar tekanan inflasi tidak meluas.

Robertsen menegaskan bank sentral AS tidak perlu memangkas suku bunga, terutama jika melihat prospek pertumbuhan dan inflasi.

Dari pasar valuta asing, kekhawatiran terhadap de-dolarisasi dinilai berlebihan. Robertsen memperkirakan dolar AS berpotensi menguat 5-8% tahun ini.

“Histeria seputar de-dolarisasi, penjualan aset dolar, dan diversifikasi menjauh dari AS telah dibesar-besarkan,” ujarnya.

Sedangkan Co-Head of FX Research Asean dan Asia Selatan Standard Chartered, Divya Devesh, menambahkan minat investor Asia terhadap saham AS dan sektor teknologi tetap tinggi.

“Narasi untuk menjual aset Amerika ternyata tidak benar-benar terjadi,” katanya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Chief Economist dan Head of FX Asean dan Asia Selatan Standard Chartered, Edward Lee, menilai permintaan eksternal tidak lagi menjadi motor utama pertumbuhan bagi negara-negara Asean pada 2026.

Oleh sebab itu, pertumbuhan Asia diperkirakan melambat, dengan China masih menghadapi tekanan dari koreksi sektor properti dan pelemahan investasi. “Ketika China bergantung pada permintaan eksternal akibat kelebihan kapasitas, kita semua tidak bisa bergantung pada China,” ujar Lee. (DH/KR)