UNTR sentuh ARB pasca-IUP dicabut, berapa kontribusi tambang Martabe?

Rabu, 21 Januari 2026

image

JAKARTA – Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) menyentuh batas auto-reject bawah (ARB) imbas keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mencabut izin operasional 28 perusahaan yang terbukti melanggar regulasi pemanfaatan hutan di Pulau Sumatra.

Pasalnya, salah satu dari 6 Badan Usaha Non-Kehutanan yang izin operasionalnya dicabut adalah PT Agincourt Resources, anak usaha tidak langsung UNTR yang mengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

Sekitar 95% saham Agincourt dimiliki PT Danusa Tambang Nusantara—anak usaha langsung UNTR, dan 5% sisanya dimiliki PT Artha Nugraha Agung—unit kelolaan BUMD Tapanuli Selatan.

Tambang tersebut merupakan satu dari dua tambang emas milik UNTR selain PT Sumbawa Jutaraya (SJR), yang memulai produksi sejak tahun 2012—namun baru resmi diakuisisi pada 2018 lalu.

Menurut manajemen, operasi Tambang Emas Martabe berjalan berdasarkan Kontrak Karya (KK) selama 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia.

Wilayah konsesi terus berkembang dari tahun 1997 hingga kini mencapai 130.252 hektar (1,303 km²), dan mencakup wilayah Tapanuli Selatan, Tengah, dan Utara, serta Mandailing Natal.

“Sejak produksi dimulai pada 24 Juli 2012, setiap tahunnya Tambang Emas Martabe telah memproses lebih dari 6 juta ton bijih dan menghasilkan lebih dari 200.000 ounce emas dan 1–2 juta ounce perak,” ujar manajemen Agincourt.

Per Juni 2025, sumber daya mineral Martabe diperkirakan mencapai 6,4 juta ons emas dan 58 juta ons perak, sedangkan cadangan bijih sekitar 3,56 juta ons emas dan 31 ons perak.

Berdasarkan laporan keuangan UNTR per September 2025 lalu, segmen penambangan emas dan mineral lainnya menyumbang pendapatan Rp10,32 triliun, atau setara 10,27% dari total pendapatan sebesar Rp100,46 triliun.

Pendapatan dari segmen penambangan emas juga melonjak 53% secara tahunan hingga September 2025 lalu, imbas dari harga emas yang telah mulai menanjak.

Tambang Emas Martabe masih menyuplai 95,5% penjualan emas UNTR pada periode tersebut dengan capaian 170 ribu ons, sedangkan tambang emas kelolaan SJR hanya menjual sekitar 8 ribu ons emas.

Namun, kini, di tengah reli emas yang semakin memuncak, UNTR hanya memiliki satu tambang emas tersisa di wilayah konsesi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kelolaan SJR.

Sementara itu, Proyek Doup yang dibeli UNTR dari PT J Resources Asia Pacific Tbk (PSAB) senilai US$540 juta belum tuntas dialihkan, karena masih dalam proses pemenuhan persyaratan pendahuluan (condition precedents).

Hingga artikel ini diterbitkan, pihak UNTR belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait respon Perseroan mengenai pencabutan izin operasional Agincourt dan Tambang Emas Martabe.

Namun, sahamnya telah ambles ke level Rp27.200 di akhir sesi I hari ini, Rabu (21/1). Saham induknya, PT Astra International Tbk (ASII), juga merosot 11,34% ke level Rp6.450. (ZH)