Usai Danantara, INA alihkan fokus investasi dari BUMN ke sektor swasta
Rabu, 21 Januari 2026

JAKARTA - Pengelola dana investasi Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), mengalihkan investasinya ke sektor swasta setelah sebagian besar aset badan usaha milik negara (BUMN) dialihkan ke lembaga investasi negara baru, Danantara.
Meski terjadi transisi kelembagaan, INA menegaskan tidak akan memperlambat laju investasinya. Institusi ini menargetkan realisasi dan komitmen investasi sekitar US$1 miliar tahun ini, sejalan dengan rata-rata historisnya.
“Tahun lalu merupakan periode yang sangat penting bagi INA. Kami telah melakukan banyak transaksi dan investasi yang melibatkan BUMN. Namun dengan terbentuknya Danantara, sudah menjadi hal yang wajar bagi INA untuk beralih ke transaksi non-BUMN,” ujar Kepala Eksekutif INA, Ridha Wirakusumah, dikutip dari businesstimes.com.
Ke depan, INA akan memperkuat perannya sebagai mitra investor global, sekaligus memperdalam investasi di sektor-sektor strategis seperti pusat data, layanan kesehatan, energi terbarukan, serta mineral, termasuk unsur tanah jarang.
Salah satu investasi andalan di sektor pusat data adalah kampus DayOne di Batam, yang menjadi fasilitas pertama di Asia Tenggara yang menggunakan chip Blackwell milik Nvidia dan sepenuhnya siap untuk kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, Ridha menegaskan INA mengambil pendekatan yang berhati-hati terhadap AI. “Saya tidak ingin ikut-ikutan tren AI hanya karena sedang populer,” katanya, seraya menekankan bahwa setiap investasi harus memberikan dampak nyata bagi Indonesia.
Sejak berdiri pada 2021, portofolio INA memang didominasi oleh infrastruktur BUMN seperti jalan tol dan pelabuhan, dengan total aset kelolaan sekitar US$10 miliar.
INA juga telah menyalurkan sekitar US$5 miliar investasi sejak mulai beroperasi. Tahun lalu, realisasi investasi bahkan mencapai lebih dari US$1 miliar. (DH/ZH)