Survei BofA: Valuasi AI sudah terlalu menggelembung
Rabu, 19 November 2025

JAKARTA - Kekhawatiran gelembung kecerdasan buatan kembali mengguncang pasar, menyeret turun saham-saham raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, dan lainnya.
Survei manajer investasi global Bank of America (BofA) menunjukkan 45% responden menilai gelembung AI sebagai risiko terbesar saat ini, dengan lebih dari separuh investor percaya valuasi saham AI sudah “terlalu menggelembung.”
Dikutip forbes.com (18/11), bank tersebut menilai kekhawatiran investor dipicu oleh kekhawatiran atas besarnya [dan] pendanaan dari ledakan AI.
Tekanan pasar juga diperkuat menjelang rilis data ketenagakerjaan dan inflasi terbaru, di tengah ekspektasi inflasi tetap tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja semakin melemah.
Peluang pemotongan suku bunga The Fed pada Desember kini merosot menjadi 50%, jauh di bawah 90% pada Oktober.
Pejabat Fed, termasuk Philip Jefferson dan Christopher Waller, memberi sinyal bank sentral akan “lanjutkan perlahan” dan berhati-hati meski membuka ruang pemangkasan suku bunga lanjutan.
Di sisi lain, semakin banyak ekonom dan eksekutif teknologi mempertanyakan keberlanjutan optimisme pasar terhadap AI.
Studi MIT menunjukkan 95% dari 300 proyek AI belum menghasilkan keuntungan meski investasi mencapai US$40 miliar. Beberapa ekonom bahkan menyamakan situasi saat ini dengan gelembung dot-com.
CEO Alphabet Sundar Pichai menyebut pertumbuhan pesat sektor AI sebagai “extraordinary moment,” namun mengakui adanya “irrationality” dalam geliat investasi tersebut. Ia menegaskan tidak ada perusahaan yang akan “kebal, termasuk kita” jika gelembung AI pecah.
Ledakan kemitraan dan investasi bernilai miliaran dolar dari pemain besar seperti OpenAI, Microsoft, Nvidia, hingga proyeksi pengeluaran OpenAI sebesar US$1,4 triliun, menjadi sorotan utama di balik meningkatnya kekhawatiran pasar.(DH)