Risiko capital outflow bayangi IHSG jelang keputusan free float MSCI
Rabu, 21 Januari 2026

JAKARTA - Pasar saham Indonesia terancam menghadapi arus keluar asing (foreign capital outflow) lebih dari US$2 miliar setelah MSCI mempertimbangkan perubahan metodologi penghitungan free float saham.
Dikutip businesstimes.com, MSCI dijadwalkan mengambil keputusan pada akhir Januari terkait rencana pengetatan definisi free float, yakni jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar.
Salah satu usulan MSCI adalah menggunakan angka free float terendah antara laporan publik emiten dan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang mampu mengidentifikasi jenis pemegang saham hingga kepemilikan di bawah 5%.
Penyesuaian metodologi MSCI ini dikhawatirkan dapat mengungkap bahwa porsi saham free float bahkan lebih kecil dari yang selama ini dilaporkan, sehingga mengurangi bobot Indonesia dalam indeks global.
Jika disetujui, aturan baru tersebut akan diberlakukan pada peninjauan indeks Mei mendatang, yang dapat memaksa investor menjual kepemilikan mereka di saham-saham Indonesia.
MSCI sendiri menyatakan bahwa perubahan metodologi ini bertujuan meningkatkan transparansi dan menutup kesenjangan informasi terkait kepemilikan saham.
“Langkah ini menjadi ujian penting bagi agenda reformasi pasar modal Indonesia, sekaligus menyoroti perbaikan tata kelola perusahaan yang dibutuhkan untuk membuka partisipasi internasional yang lebih besar serta arus investasi jangka panjang,” kata Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments.
Indonesia saat ini tercatat sebagai pasar dengan rata-rata free float terendah di Asia. Data Bloomberg menunjukkan lebih dari 200 saham memiliki free float di bawah 15%, terendah di antara indeks utama Asia-Pasifik.
Ketika free float rendah, saham-saham tersebut berisiko menjadi apa yang disebut analis Aletheia Capital Nirgunan Tiruchelvam sebagai “museum pieces." Investor boleh saja melihat-lihat, tapi tidak akan pernah bisa membeli dalam porsi yang signifikan.
Ketimpangan ini tercermin pada kinerja indeks tahun 2025. IHSG melonjak lebih dari 22% dan mencetak rekor all-time high (ATH), sementara Indeks MSCI Indonesia justru turun 3%.
Banyak saham berkapitalisasi besar di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dikendalikan oleh pemegang saham mayoritas, dan diperdagangkan dengan terbatas, sehingga menyulitkan investor institusi untuk masuk dalam skala besar.
Merespon hal ini, regulator pasar modal Indonesia mengungkap rencana menaikkan batas minimum free float menjadi 10–15% dari saat ini 7,5%, dengan target jangka panjang 25%.
Namun, pelaku pasar menilai peningkatan free float belum tentu diiringi lonjakan likuiditas. “Likuiditas tersebut pada akhirnya mungkin tidak terwujud,” kata Christopher Andre Benas, kepala riset PT BCA Sekuritas.
Menurutnya, investor institusi tetap selektif sementara investor ritel tidak memiliki dana yang cukup untuk menyerap tambahan saham.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar meyakini bobot Indonesia tidak akan terus ditekan.
“Mengingat potensi kenaikan jangka panjang saham Indonesia, pasar ini terlalu menarik bagi penyedia indeks untuk terus mengurangi bobotnya,” kata Dimas Yusuf, kepala investasi PT Sucorinvest Asset Management.
Di sisi lain, sejumlah sekuritas, termasuk PT Samuel Sekuritas Indonesia, memperkirakan arus keluar dana pasif asing bisa mencapai sekitar US$2 miliar jika aturan baru diterapkan.
Tekanan dari potensi arus keluar saham juga berisiko memperburuk pelemahan rupiah, yang telah menyentuh rekor terendah di tengah derasnya arus keluar asing dari pasar obligasi.
Kekhawatiran investor turut dipicu oleh isu disiplin fiskal pemerintah dan independensi bank sentral. (DH/ZH)