Haikal Ahmad: Malaysia sudah terapkan sistem halal 20 tahun di depan
Rabu, 21 Januari 2026

JAKARTA - Ketua Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Ahmad Hasan, mengungkapkan pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat (hub) halal dunia seiring penerapan kewajiban sertifikasi halal secara penuh pada 2026.Pernyataan tersebut disampaikan Haikal dalam International Halal Symposium bertajuk “Halal Beyond Compliance: A Strategic Pathway to Global Leadership” yang digelar di Menara Syariah, Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Banten, Rabu (21/1).Haikal menilai kebijakan halal yang bersifat mandatory menjadi langkah krusial untuk mengerek potensi ekonomi halal nasional yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah. Sejak halal ditetapkan sebagai kewajiban, capaian sertifikasi disebut melonjak signifikan.“Kami sudah berhasil membuat sertifikasi halal sampai 11 juta. Ini bukan soal prestasi, tapi soal betapa halal telah membumi di Indonesia dan diterima dengan sangat baik,” ujar Haikal.Saat ini, Indonesia mencatat sekitar 10.000 sertifikat halal terbit setiap hari. Namun, dari sekitar 60 juta pelaku UMKM, baru sekitar 3 juta yang telah masuk ke dalam sistem sertifikasi halal.“Ini masih sangat sedikit. Tapi kalau tercapai 30 persen saja, transaksi halal menurut catatan Dinar Standard sudah hampir mencapai Rp6.800 triliun,” katanya.Pemerintah pun menargetkan 30 juta UMKM bersertifikat halal pada 2026, atau sekitar separuh dari total UMKM nasional, seiring diberlakukannya kewajiban halal tanpa pengecualian.“Kami harus bekerja ekstra keras di 2026. Itu target besar, tapi harus dikejar,” tegasnya.Menurut perhitungan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), kontribusi halal value chain pada 2025 telah mencapai hampir 27 persen terhadap PDB Indonesia.Kontribusi tersebut mencakup sektor makanan dan minuman, obat-obatan, kosmetik, barang gunaan, hingga produk tekstil dan personal care seperti sabun, sampo, dan pasta gigi.Di tingkat global, Indonesia juga semakin agresif membangun posisi strategis. Dalam berbagai forum internasional, mulai dari Kazan Forum, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, hingga Afrika Selatan, Indonesia aktif memperkenalkan ekosistem halal nasional.“Di Afrika Selatan, secara aklamasi kami ditunjuk sebagai rujukan standar halal internasional untuk dunia,” ungkap Haikal.Saat ini, Indonesia tengah merumuskan standar halal global yang diharapkan mampu menyelaraskan berbagai standar internasional yang ada.“Kami ingin racikan Indonesia menjadi standar dunia. Itu cita-cita sampai 2029, tapi saya berusaha tercapai di 2026,” ujarnya.Haikal mengakui Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara lain. Malaysia, misalnya, telah menerapkan sistem halal sejak era 1980-an. Sementara itu, Amerika Serikat sudah memiliki lembaga halal sejak 1974.“Malaysia itu 20 tahun di depan kita. Amerika tetap nomor tiga dunia. Nomor dua Brasil, dan nomor satu China,” katanya.China dinilai sangat serius menggarap pasar halal global hingga menjadi salah satu eksportir utama produk halal ke negara-negara mayoritas Muslim.“Artinya, ketertinggalan 20 tahun ini harus kita kejar dalam lima tahun. Target kami, 2029 Indonesia jadi nomor satu dunia,” tegas Haikal.Dengan mandat halal nasional, lonjakan sertifikasi UMKM, serta ambisi membangun standar halal global, pemerintah optimistis Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam ekonomi halal dunia. (DK)