Rupiah tertekan, Gubernur BI Perry Warjiyo menghadap Istana
Kamis, 22 Januari 2026
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dipanggil ke Istana Negara beberapa jam sebelum rapat penentuan suku bunga acuan pada Rabu (21/1), di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang jatuh ke level terendah sepanjang sejarah.
Diberitakan bloomberg.com, langkah ini dinilai tidak lazim dan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pemerintah terhadap stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang bertemu Perry Warjiyo bersama dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, memberikan klarifikasi bahwa pertemuan tersebut bertujuan menyinkronkan kebijakan fiskal dan moneter.
“Gubernur Bank Indonesia akan memastikan langkah-langkah yang diperlukan diambil untuk menjaga nilai tukar,” ujar Purbaya. “Saya pikir beliau akan menanganinya dengan baik. Tidak akan ada masalah lanjutan.”
Berdasarkan Rapat Dewan Gubernur BI kemarin, Rabu (21/1), Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%, sesuai dengan estimasi pasar.
Namun, sebagian analis mulai mempertimbangkan risiko pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, seiring pencalonan keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Langkah ini dipandang sebagai tekanan bagi pembuat kebijkan untuk terus menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, pencalonan anggota keluarga presiden sebagai pejabat BI memperkuat kekhawatiran publik akan independensi bank sentral.
Sebagai catatan, pemerintahan Prabowo memang telah menghadapi berbagai sorotan atas kebijakan ekonominya, mulai dari ekspansi defisit APBN yang agresif demi program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga pencopotan Sri Mulyani Indrawati dari posisi Menteri Keuangan yang telah ia pegang sejak tahun 2005. (DH/ZH)