BI ungkap permintaan kredit masih lemah sepanjang 2025
Kamis, 22 Januari 2026

JAKATA - Pertumbuhan kredit perbankan nasional melambat ke satu digit pada 2025, meskipun likuiditas di sistem keuangan masih longgar dan kebijakan moneter berada pada fase akomodatif.
Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit tumbuh 9,69% secara tahunan pada Desember 2025, meningkat dibanding bulan sebelumnya, namun menegaskan tren perlambatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan secara kumulatif sepanjang 2025, kredit perbankan tumbuh 9,96%, masih berada dalam kisaran target BI sebesar 8–11%.
Ia juga memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2026 akan bergerak dalam rentang 8–12%, dengan potensi peningkatan yang terbatas.
Perlambatan kredit dipengaruhi oleh kinerja yang tidak merata antarsegmen. Kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan kuat sebesar 21,06% tahunan, sejalan dengan berlanjutnya belanja proyek dan ekspansi modal. Sebaliknya, pertumbuhan kredit modal kerja dan konsumsi relatif tertahan, masing-masing hanya mencapai 4,52% dan 6,58%.
“Perkembangan ini sejalan dengan upaya Bank Indonesia menurunkan suku bunga dan memperkuat insentif likuiditas makroprudensial, serta pelaksanaan program prioritas pemerintah di tengah kondisi makroekonomi dan sistem keuangan yang stabil,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual usai rapat kebijakan Januari.
Dari sisi permintaan, dunia usaha masih menunjukkan sikap hati-hati dalam menarik kredit. Hal ini tercermin dari tingginya kredit yang belum dicairkan (undisbursed loans) yang mencapai Rp2.439,2 triliun, atau setara 22,12% dari total plafon kredit.
Di sisi lain, kapasitas penyaluran perbankan tetap kuat, ditopang rasio likuiditas yang tinggi serta pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dua digit. Namun demikian, standar penyaluran kredit untuk sektor konsumsi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih relatif ketat, seiring risiko kredit yang dinilai lebih tinggi.(DH)