Indeks ketakutan Wall Street naik 10%, bitcoin dan saham AS melemah
Rabu, 19 November 2025

NEW YORK – Pasar kripto dan saham tengah bergejolak, dan para investor memperkirakan turbulensi masih bisa berlanjut.
Pada perdagangan Selasa (18/11) lalu, bursa saham AS kembali melemah. Dow Jones turun 499 poin atau 1,07%, S&P 500 terkoreksi 0,83%, dan Nasdaq Composite merosot 1,21%. Ini menjadi penurunan harian keempat berturut-turut bagi S&P 500.
Di sisi lain, bitcoin kembali tertekan. Hanya enam minggu setelah mencetak rekor di atas US$126.000, harganya kini jatuh lebih dari 26% dan diperdagangkan sedikit di bawah US$93.000 pada Selasa sore, menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun ini.
Dilansir dari edition.cnn.com, Rabu (19/11), pada Senin malam, bitcoin bahkan sempat menyentuh di bawah US$90.000 untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan.
Seiring investor menjauhi aset berisiko seperti saham AI dan kripto, ketidakpastian mengenai potensi pemangkasan suku bunga The Fed bulan depan semakin memperburuk sentimen.
Bitcoin, sebagai aset spekulatif, ikut terseret oleh sikap pasar yang lebih berhati-hati.
Secara teknis, bitcoin kini memasuki fase bear market setelah turun lebih dari 20% dari puncaknya.
Data CoinMarketCap menunjukkan nilai pasar kripto terbesar itu sudah susut lebih dari US$600 miliar.
“Penurunan bitcoin merupakan bagian dari perubahan sentimen risiko yang lebih luas,” kata Haider Rafique, Global Managing Partner OKX.
Di pasar saham, kekhawatiran mengenai valuasi yang mahal serta rencana belanja besar-besaran perusahaan teknologi juga menekan indeks.
Saham-saham besar seperti Nvidia turun 2,81%, Amazon jatuh 4,43%, dan Microsoft melemah 2,7%. Nasdaq kini sudah turun 6,6% dari rekor tertingginya akhir Oktober dan kehilangan sekitar US$2,6 triliun nilai pasar.
Indeks ketakutan Wall Street, VIX, melonjak 10% pada Selasa. VIX (CBOE Volatility Index) adalah indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS dalam 30 hari ke depan, berdasarkan harga opsi S&P 500.
Karena menggunakan harga opsi, VIX menangkap sentimen ketakutan atau ketidakpastian investor.
Sementara Indeks Fear and Greed CNN bahkan berada di zona “ketakutan ekstrem,” terendah sejak awal April.
Selain kondisi makro, tekanan jual juga datang dari investor jangka panjang yang mengambil untung setelah lonjakan besar dalam beberapa tahun terakhir.
“Bitcoin tertekan akibat aksi ambil untung investor jangka panjang, ketidakpastian soal kebijakan Fed, kondisi likuiditas, dan faktor makro lainnya,” ujar Gerry O’Shea, Head of Global Market Insights Hashdex.
Bitcoin belum pulih sejak flash crash 10 Oktober, ketika Presiden Donald Trump kembali memicu perang dagang dengan China.
Menurut Peter Chung dari Presto Research, berkurangnya pelaku pasar membuat orderbook menipis, sehingga harga lebih mudah bergerak liar.
“Penurunan Bitcoin sejalan dengan pelemahan aset berisiko lain, namun dampaknya lebih besar karena orderbook kripto menipis pasca likuidasi besar-besaran 10 Oktober,” kata Chung.
Padahal, hingga beberapa pekan lalu Bitcoin mencatat performa kuat. Menjelang pilpres AS, Bitcoin masih berada di kisaran US$69.000 sebelum melonjak 83% menuju rekor US$126.000 awal Oktober.
Pada Desember 2024, Bitcoin menembus US$100.000 pertama kalinya didorong harapan bahwa administrasi Trump akan melonggarkan regulasi kripto.
Pemerintahan Trump kemudian mendorong regulasi yang lebih ramah kripto, termasuk pengesahan GENIUS Act untuk mengatur stablecoin, serta menunjuk regulator pro-kripto Paul Atkins sebagai Ketua SEC.
Berbagai produk ETF dan instrumen baru juga semakin memudahkan masyarakat mengakses kripto.
Namun kini, bitcoin kembali ke sekitar US$93.000, menghapus kenaikan selama 11 bulan terakhir.
Sebagai pembanding, S&P 500 masih naik 12,5% sejak awal tahun, sementara harga emas melonjak 54%.
Berbeda dengan saham-saham teknologi yang cepat dibeli investor saat melemah (seperti aksi beli di Nvidia dua hari terakhir), bitcoin masih kesulitan bangkit.
Para analis menilai pasar kripto berada di titik kritis: katalis positif tahun ini sudah harga, sementara ketidakpastian makro meningkat.
“Pergerakan pasar dalam beberapa hari ke depan akan menjadi sinyal apakah ini koreksi dalam yang lebih panjang atau hanya penurunan tajam sementara,” kata Rafique dari OKX.
Meski demikian, sebagian investor tetap optimistis. Pada April lalu bitcoin sempat turun hingga US$74.500 sebelum melonjak kembali ke rekor baru di Oktober.
“Beberapa investor melihat konsolidasi seperti ini sebagai tanda negatif,” ujar Ryan Rasmussen, Head of Research Bitwise.
“Tapi menurut kami, justru ini momen ideal untuk menambah posisi atau masuk bagi mereka yang selama ini menunggu.” (DK)