UBS: Porsi yuan di cadangan devisa global bisa naik jadi 10%
Jumat, 23 Januari 2026

JAKARTA - UBS Asset Management menilai China berpeluang meraih manfaat apabila investor global semakin meningkatkan diversifikasi portofolio di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan Amerika Serikat.
Kepala Strategi Pasar Sovereign Global UBS Asset Management, Massimiliano Castelli, mengatakan bahwa jika ketegangan yang melibatkan AS semakin meningkat, termasuk tekanan di pasar obligasi pemerintah AS serta serangan terhadap Federal Reserve yang berpotensi menggerus kredibilitas AS, porsi yuan dalam cadangan devisa bank sentral global dapat meningkat hingga 10 persen dalam jangka menengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Castelli dalam wawancara di Shanghai. Proyeksi itu lebih tinggi dibandingkan target alokasi jangka panjang yuan sekitar 6 persen yang dilaporkan oleh sekitar 40 bank sentral dalam survei UBS Asset Management tahun lalu.
Seperti dikutip Bloomberg.com, Jumat (23/1), adapun data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan yuan baru menyumbang 1,9 persen dari total cadangan devisa global per September 2025.
Castelli menilai kebijakan Presiden AS Donald Trump turut menjadi sorotan pelaku pasar, terutama terkait potensi melemahkan posisi aset AS yang selama ini dianggap sebagai jangkar portofolio global.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik pasar di luar AS, meski dominasi dolar AS diperkirakan tidak akan memudar dalam waktu dekat.
“Ada peluang bagi China saat ini, karena permintaan diversifikasi dari dolar AS dipercepat oleh dinamika politik era Trump,” ujar Castelli.
Meski demikian, ia menegaskan dolar masih mendominasi perdagangan global, dengan lebih dari separuh transaksi internasional menggunakan mata uang tersebut.
Menurutnya, dolar tetap akan menjadi kekuatan utama di pasar keuangan global dalam jangka pendek hingga menengah.
Ia menambahkan, pelemahan dolar sejak tahun lalu lebih disebabkan oleh faktor siklus, seperti perbedaan suku bunga, bukan karena perubahan struktural.
Namun, tanda-tanda kekhawatiran investor terhadap dolar tetap terlihat, salah satunya melalui pembelian emas oleh bank sentral yang mendorong harga logam mulia tersebut ke rekor tertinggi.
Sejumlah langkah Trump, mulai dari kebijakan terhadap Venezuela, ketegangan dengan Eropa terkait Greenland, hingga kritik terhadap Ketua Federal Reserve, dinilai membuat pergerakan dolar menjadi lebih volatil.
Castelli juga menyoroti bahwa sejumlah keunggulan dolar, seperti likuiditas pasar, kredibilitas bank sentral, pengaruh geopolitik, dan stabilitas fiskal, mulai tertekan oleh kebijakan saat ini.
Jika gangguan terus berlanjut, arus keluar dari pasar AS berpotensi meningkat. “Di situlah peluang muncul bagi China dan Eropa,” ujarnya. (DK)