UBS: Pasar beralih ke emas, investor siap tinggalkan saham big tech

Jumat, 23 Januari 2026

image

JAKARTA - Kekhawatiran geopolitik dan tekanan makroekonomi global mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah, yang pada gilirannya mengangkat harga emas sebagai aset lindung nilai utama.

Menurut Michael Zinn, Managing Director dan Senior Portfolio Manager UBS, kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko pasar, terutama menjelang dinamika politik dan kebijakan yang semakin tidak pasti.

Seperti diberitakan kitco.com, dalam wawancara dengan BNN Bloomberg, Zinn menilai perhatian pasar saat ini lebih tertuju pada lonjakan imbal hasil obligasi Jepang dibandingkan isu geopolitik lainnya.

“Saya pikir yang mendorong pasar hari ini secara lebih signifikan adalah apa yang terjadi di Jepang,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil di Jepang telah lama memberi tekanan terhadap pasar obligasi global, termasuk Amerika Serikat.

Zinn mengatakan lonjakan imbal hasil hingga menyentuh batas atas kisaran telah mengurangi selera risiko investor. “Hari-hari seperti ini mulai membuat investor enggan mengambil risiko dan mendorong mereka beralih ke aset lain seperti emas,” katanya. Ia mencatat harga emas tetap mendekati level tertinggi harian, menandakan investor memilih bertahan di aset aman sambil menunggu kejelasan arah pasar.

Meski demikian, Zinn menegaskan tekanan pasar saat ini belum mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi secara menyeluruh. “Kami menilai semua ini terjadi di tengah fundamental yang sebenarnya cukup kuat,” ujarnya, sembari mengingatkan bahwa aksi jual yang dipicu lonjakan imbal hasil dapat berlangsung tajam, sehingga kesabaran menjadi strategi penting bagi investor.

Untuk prospek 2026, Zinn melihat adanya pergeseran kepemimpinan sektor pasar dari teknologi ke komoditas. “Tahun ini terasa sedikit berbeda,” katanya. Ia menyoroti kinerja positif sektor energi, material, saham berkapitalisasi kecil, dan perumahan, sementara saham teknologi tertinggal, menandakan meluasnya sumber pertumbuhan pasar di luar kelompok saham raksasa teknologi.

Zinn juga mengingatkan bahwa pemilu paruh waktu Amerika Serikat berpotensi meningkatkan volatilitas pasar seiring munculnya berbagai kebijakan populis. Menurutnya, fluktuasi jangka pendek tersebut kerap membuka peluang investasi, namun investor perlu mencermati potensi intervensi pemerintah jika lonjakan imbal hasil obligasi terus berlanjut.(DH)