Kapal-kapal besar Iran berkumpul di choke point Selat Hormuz, mengapa?
Minggu, 25 Januari 2026

JAKARTA - Sejumlah kapal terpantau beroperasi di perairan dekat Kooh Mobarak, pesisir selatan Iran, jalur sempit yang dikenal sebagai 'maritime choke point' menuju Selat Hormuz, menurut data pelacakan maritim per 23 Januari.
Perairan sempit di Selat Hormuz, yang berbatasan langsung dengan Iran, dikategorikan sebagai maritime choke point karena menjadi titik kritis lalu lintas energi dunia. Kawasan ini menjadi sorotan karena Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global dan berperan vital dalam rantai pasok energi dunia.
Data Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) menunjukkan sedikitnya enam kapal berada di area tersebut, termasuk kapal berbendera Iran dan Inggris. Kapal-kapal itu bergerak dengan kecepatan rendah, mulai dari kondisi diam hingga sekitar 2,5 knot, dan tercatat berada dalam jarak yang relatif berdekatan.
Seperti dikutip intellinews.com, 23 Januari 2026, keberadaan kapal-kapal ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain di sekitar Selat Hormuz, puluhan kapal Iran juga terpantau di Laut Arab dan Teluk Persia. Sebagian diklasifikasikan sebagai kapal penangkap ikan, sementara lainnya tidak memiliki identifikasi jelas dan dilaporkan beroperasi dekat dengan kehadiran militer Amerika Serikat.
Situasi semakin diperhatikan pasar setelah laporan bahwa gugus tempur kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln bergerak menuju Teluk Persia. Armada tersebut dilengkapi kapal perusak pengawal dan jet tempur F-35. Meski lokasi pastinya belum terkonfirmasi, armada ini diyakini kini berada di kawasan Laut Arab dan diperkirakan mendekati wilayah Oman.
Sementara itu, kapal induk USS George HW Bush dilaporkan telah meninggalkan Norfolk dan berpotensi menuju Timur Tengah, meski membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mencapai kawasan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan pengerahan armada tersebut bersifat pencegahan. Ia menyebut Washington tengah memantau Iran secara ketat guna mencegah eskalasi lebih lanjut, seraya mengingatkan bahwa AS memiliki kekuatan militer yang siap digunakan bila diperlukan.
Dari sisi Iran, peringatan keras kembali disampaikan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran akan membalas dengan kekuatan penuh jika terjadi serangan baru. Ia menilai konflik terbuka akan berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga bagi stabilitas global dan masyarakat internasional.
Bagi pasar keuangan dan energi, perkembangan di sekitar Selat Hormuz menjadi faktor krusial. Setiap eskalasi berpotensi mengganggu arus pengiriman minyak dunia, memicu volatilitas harga energi, dan menambah tekanan pada perekonomian global yang masih rentan terhadap risiko geopolitik.
Kerusuhan terburuk di Iran dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran agar tidak membunuh para demonstran atau menghidupkan kembali program nuklirnya.
Para analis, seperti dikutip Reuters (23/01), memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mendorong Teheran menargetkan kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, atau bahkan mencoba menutup jalur perairan tersebut, yang sangat vital bagi ekspor minyak global.
>> Apa itu Selat Hormuz <<
Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia di sebelah utara dengan Teluk Oman di selatan serta Laut Arab di luarnya.
Pada titik tersempitnya, lebar selat ini sekitar 21 mil (33 km), dengan jalur pelayaran hanya sekitar 2 mil (3 km) di masing-masing arah.
Mengapa selat ini penting?Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz.Lebih dari 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi selat ini setiap hari sepanjang tahun lalu, menurut data perusahaan analitik Vortexa.
Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat ini, terutama ke Asia.
Qatar, salah satu eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, mengirim hampir seluruh LNG-nya melalui Selat Hormuz.
UEA dan Arab Saudi telah berupaya mencari rute alternatif untuk melewati selat tersebut. Sekitar 2,6 juta barel per hari (bph) kapasitas yang belum dimanfaatkan dari jaringan pipa UEA dan Arab Saudi yang ada dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, menurut Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Juni tahun lalu.
Armada Kelima Angkatan Laut AS, yang berbasis di Bahrain, bertugas melindungi pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Sejarah Ketegangan di Hormuz:
Baca juga: Armada besar AS menuju Teluk, Iran: Kami akan lawan habis-habisan