Maskapai global hindari penerbangan ke wilayah Timur Tengah
Minggu, 25 Januari 2026

JAKARTA - Ketidakpastian geopolitik kembali membayangi kawasan Timur Tengah seiring semakin banyak maskapai penerbangan internasional yang menangguhkan layanan ke wilayah tersebut. Langkah ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku industri terhadap potensi eskalasi konflik regional.
Air France dan KLM menjadi maskapai terbaru yang membatalkan penerbangan ke Israel dan sejumlah negara Teluk pada Jumat malam. Keputusan ini menyusul langkah Lufthansa Group, yang lebih dulu menangguhkan penerbangan regional serta menghentikan rute yang melintasi wilayah udara Irak dan Iran.
Seperti dikutip cgtn.com/, 24 Januari 2026, KLM menyebut situasi geopolitik sebagai alasan utama penangguhan penerbangan, sebagaimana dilaporkan media Belanda, NOS. Penyesuaian operasional ini menegaskan meningkatnya risiko keamanan di jalur penerbangan Timur Tengah.
Kekhawatiran pasar semakin menguat setelah Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan memperingatkan bahwa Israel tengah mencari peluang untuk menyerang Iran. Dalam wawancara televisi, Fidan menilai potensi serangan tersebut berisiko memicu destabilisasi kawasan yang lebih luas.
Di sisi lain, Amerika Serikat turut meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan memperluas sanksi pada sektor perminyakan Iran. Departemen Keuangan AS memasukkan delapan perusahaan pelayaran dan sembilan kapal ke dalam daftar sanksi, yang berdampak pada pembekuan aset serta larangan transaksi dengan entitas AS.
Langkah Washington ini memperketat ruang gerak ekspor energi Iran, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara tersebut. Tekanan tambahan ini berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan volatilitas harga minyak.
Sementara itu, Iran memperkeras sikapnya terhadap apa yang disebut sebagai campur tangan asing. Pemerintah Teheran menuduh Parlemen Eropa menyebarkan informasi keliru terkait penanganan protes domestik dan menilai resolusi terbaru Uni Eropa sebagai bentuk intervensi politik.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengklaim bahwa gelombang protes nasional merupakan bagian dari rencana sabotase yang dipimpin oleh AS dan Israel. Pemerintah Iran menyatakan akan mengambil langkah balasan terhadap setiap tindakan yang dianggap ilegal dan mengancam kedaulatan negara.
Meningkatnya ketegangan geopolitik, gangguan transportasi udara, serta tekanan terhadap sektor energi Iran berpotensi memberi dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi kawasan dan sentimen pasar global, terutama di tengah kondisi ekonomi dunia yang masih rapuh.(GA)