CEO Citadel Ken Griffin: AI belum terbukti dongkrak produktivitas
Senin, 26 Januari 2026

Jakarta – Di tengah euforia global terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), CEO hedge fund Citadel Ken Griffin justru melontarkan pandangan yang lebih berhati-hati.
Ia menilai hype AI saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan peningkatan produktivitas nyata yang dihasilkan teknologi tersebut.
Berbicara dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos 2026, Griffin mengatakan lonjakan investasi AI banyak didorong oleh narasi besar tentang masa depan digital, bukan oleh capaian konkret saat ini. Menurutnya, sebagian klaim transformasi ekonomi yang dikaitkan dengan AI terlalu optimistis dan belum sepenuhnya didukung data produktivitas.
Seperti dikutip businessinsider.com, Kamis (22/01), Griffin mencatat, investasi infrastruktur AI di Amerika Serikat diperkirakan menembus US$500 miliar pada tahun ini. Belanja tersebut sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan pusat data guna menopang pengembangan dan operasional AI generatif.
Namun, ia mempertanyakan sejauh mana belanja masif tersebut berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas ekonomi. “Anda tidak akan mengeluarkan dana sebesar ini tanpa janji akan terjadi perubahan besar di dunia,” ujar Griffin, seraya menegaskan skeptisisme terhadap ekspektasi tinggi yang melekat pada AI.
Terkait prediksi bahwa AI akan menghapus sebagian besar pekerjaan kerah putih tingkat pemula dalam lima tahun ke depan, Griffin menilai pandangan tersebut berlebihan. Ia berpendapat, proyeksi itu belum mencerminkan realitas produktivitas AI saat ini dan lebih didorong oleh sentimen pasar dibanding analisis ekonomi yang matang.
Pandangan Griffin ini kontras dengan sikap sejumlah pemimpin perusahaan teknologi besar seperti OpenAI dan Microsoft yang cenderung lebih optimistis. Meski demikian, beberapa pelaku industri juga mulai memperingatkan potensi terbentuknya gelembung teknologi apabila ekspektasi tidak sejalan dengan hasil aktual.
Griffin juga melontarkan kritik tajam terhadap AI generatif. Menurutnya, hasil yang ditampilkan pada tahap awal kerap terlihat mengesankan, tetapi kualitasnya menurun ketika diuji lebih mendalam.
Ia mencontohkan pengalaman membaca laporan berbasis AI yang tampak masuk akal di bagian awal, namun kehilangan substansi di bagian berikutnya. Hal ini memperkuat pandangannya bahwa adopsi AI masih memerlukan evaluasi ketat sebelum dijadikan fondasi utama proses bisnis.
Meski bersikap kritis, Griffin tidak menutup mata terhadap potensi jangka panjang AI. Ia mengakui teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi di sektor tertentu, seperti pengembangan perangkat lunak dan layanan pusat panggilan (call center). Sejumlah investasi teknologi juga dinilai telah memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Griffin menambahkan, geliat AI justru memperkuat posisi Chief Technology Officer (CTO) di perusahaan-perusahaan AS. Artinya, meski hype dinilai berlebihan, AI tetap dipandang sebagai teknologi strategis yang berpotensi menjadi pengubah permainan dalam jangka panjang—asal ekspektasi diseimbangkan dengan realitas. (GA)